Berita Gereja

“The Church Will Not Be Silent”: PGI Tegaskan Suara Gereja untuk Keadilan dan Perdamaian Papua


Sumber : PGI

BeritaMujizat.com – Berita Gereja – Gereja tidak dipanggil untuk berdiam diri ketika ketidakadilan, kekerasan, dan krisis kemanusiaan terjadi di tengah masyarakat. Semangat inilah yang kembali ditegaskan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) melalui peluncuran buku The Church Will Not Be Silent: PGI’s Prophetic Witness on Justice and Peace in Papua (2019–2026).

Buku tersebut diluncurkan di Grha Oikoumene, Jakarta, Senin (5/10/2026), sebagai dokumentasi perjalanan kesaksian profetik PGI dalam merespons berbagai persoalan kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian di Tanah Papua.

Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn F. Manuputty, menegaskan bahwa buku tersebut merupakan rekaman perjalanan gereja dalam menyuarakan keadilan dan perdamaian di Papua sepanjang 2019 hingga 2026.

“The Church Will Not Be Silent, adalah kesaksian profetik, kenabian di Papua, terkait dengan keadilan dan perdamaian Papua, dari 2019 sampai 2026,” ujar Pdt. Jacky Manuputty saat peluncuran buku.

Menurutnya, perjalanan tersebut tidak hanya menunjukkan respons PGI terhadap berbagai persoalan di Papua, tetapi juga memperlihatkan bagaimana keterlibatan gereja semakin berkembang melalui penguatan jejaring di tingkat regional maupun internasional.

Salah satu momentum penting dalam perjalanan tersebut adalah International Symposium on Papua yang berlangsung di Chiang Mai, Thailand, pada 28 September–1 Oktober 2026. Pertemuan itu mempertemukan pimpinan dan perwakilan gereja dari berbagai denominasi untuk membicarakan masa depan Papua dalam perspektif keadilan, perdamaian, dan solidaritas gereja.

“Ini dari 2019 sampai 2026. Termasuk dokumen hasil pertemuan di Chiang Mai,” kata Pdt. Jacky.

Merekam perjalanan kesaksian gereja

Wakil Sekretaris Umum PGI, Pdt. Lenta Enni Simbolon, menjelaskan bahwa buku tersebut bukan sekadar kumpulan dokumen, melainkan rekaman perjalanan gereja dalam merespons berbagai situasi yang dihadapi masyarakat Papua.

Buku yang disusun secara kronologis itu menghimpun berbagai pernyataan sikap, siaran pers, seruan, rekomendasi, hingga deklarasi ekumenis PGI mengenai Papua sepanjang 2019–2026.

Berbagai persoalan yang direkam di dalamnya antara lain isu rasisme, pengungsian, kekerasan bersenjata, pelanggaran hak asasi manusia, krisis kemanusiaan, kerusakan ekologis, hingga ancaman terhadap tanah dan ruang hidup masyarakat adat.

“Buku mengenai Papua ini bukan sekadar kumpulan dokumen, tetapi juga menjadi rekaman perjalanan bagaimana gereja merespons berbagai situasi yang dihadapi masyarakat Papua,” jelas Pdt. Lenta.

Dokumentasi tersebut juga memperlihatkan perkembangan keterlibatan PGI, dari respons publik terhadap berbagai persoalan menuju kerja ekumenis yang semakin terstruktur.

Di dalamnya terdapat sejumlah dokumen penting, termasuk sikap PGI terkait Proyek Strategis Nasional di Merauke, rekomendasi Pra-Simposium Manokwari, hingga Chiang Mai Ecumenical Declaration for Papua: ‘Choosing Life’ yang dihasilkan melalui International Symposium on Papua.

Membawa suara Papua ke dunia

Buku The Church Will Not Be Silent diterbitkan dalam bahasa Inggris. Pilihan tersebut menjadi bagian dari upaya PGI memperluas jangkauan dokumentasi dan advokasi kepada gereja-gereja serta jejaring oikoumenis internasional.

Melalui publikasi ini, PGI berharap gereja dan lembaga oikoumenis di tingkat regional maupun global dapat memahami secara lebih utuh persoalan kemanusiaan di Papua, sekaligus melihat pergumulan gereja-gereja di Indonesia dalam merespons berbagai persoalan tersebut.

Publikasi berbahasa Inggris ini juga diharapkan memperkuat komunikasi dalam percakapan ekumenis internasional mengenai perlindungan warga sipil, hak-hak Orang Asli Papua, pengungsian, keadilan ekologis, perdamaian, rekonsiliasi, serta pentingnya ruang dialog yang bermartabat.

Pdt. Jacky Manuputty mengatakan buku tersebut akan dibagikan kepada jaringan gereja internasional sebagai bagian dari upaya memperluas solidaritas dan memperkuat suara gereja mengenai Papua.

Dalam peluncuran tersebut, buku juga diserahkan kepada para pimpinan sinode gereja di Tanah Papua yang hadir dalam pertemuan tindak lanjut International Symposium on Papua.

Gereja memilih untuk bersuara

Bagi PGI, dokumentasi memiliki peran penting dalam menjaga ingatan atas perjalanan gereja. Kesaksian yang pernah disampaikan tidak berhenti sebagai ingatan lisan, tetapi dapat menjadi sumber pembelajaran bagi gereja dan berbagai pihak yang terlibat dalam membangun perdamaian di Papua.

“Buku ini merekam saat-saat ketika gereja memilih untuk bersuara. Di dalamnya ada duka, protes, solidaritas, peringatan, kepedulian, pastoral, dan pengharapan,” ujar Pdt. Lenta.

Dokumentasi tersebut sekaligus menjadi upaya membawa suara gereja-gereja di Indonesia dan masyarakat Papua ke ruang oikoumenis internasional secara lebih kuat, berbasis dokumen, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Buku ini diedit oleh Biro Penelitian dan Pengembangan PGI bekerja sama dengan Bidang Keadilan dan Perdamaian, Biro Papua, serta Biro Pengurangan Risiko Bencana (PRB) PGI. Penyusunan buku juga mendapat kontribusi dari YAKOMA PGI dalam penelusuran dan penyediaan berbagai dokumen yang menjadi dasar kompilasi historis tersebut.

Dari dokumentasi menuju langkah bersama

Peluncuran buku ini menjadi bagian dari rangkaian tindak lanjut PGI setelah International Symposium on Papua di Chiang Mai. Pertemuan tersebut tidak hanya menghasilkan Chiang Mai Ecumenical Declaration for Papua: “Choosing Life”, tetapi juga membuka ruang bagi penguatan kerja bersama gereja-gereja di tingkat regional dan internasional.

Pertemuan pasca-simposium di Grha Oikoumene membahas sejumlah langkah implementasi, termasuk penguatan koordinasi kemanusiaan, pengelolaan data dan perlindungan warga sipil, pengembangan ruang dialog, serta penguatan jejaring ekumenis regional dan internasional.

Dengan demikian, The Church Will Not Be Silent bukan menjadi penutup dari perjalanan kesaksian gereja, melainkan bagian dari proses yang terus berlanjut.

Dokumentasi menjadi cara untuk menjaga ingatan, sementara kesaksian profetik diteruskan melalui tindakan dan kerja bersama.

Melalui penerbitan buku tersebut, PGI kembali menegaskan komitmennya untuk terus mendengarkan suara masyarakat Papua dan berjalan bersama gereja-gereja, komunitas adat, perempuan, pemuda, pelaku kemanusiaan, akademisi, pemerintah, serta mitra ekumenis dalam memperjuangkan masa depan Papua yang lebih adil, damai, dan bermartabat.

Comments

Related Articles

Back to top button