“Solo, Maukah Engkau Menangis Lagi Bagi-Ku?” Pesan Profetik Menggema di Session 1 WFC Solo Raya

BeritaMujizat.com – Berita Gereja – Wind and Fire Conference (WFC) Solo Raya memasuki Session 1 pada Selasa (30/6) dengan sebuah pesan kuat tentang penyerahan diri, tangisan bagi Tuhan, dan pembaruan perjanjian bersama-Nya.
Sejak awal ibadah, hadirat Tuhan terasa memenuhi ruangan melalui pujian dan penyembahan yang membawa seluruh peserta memasuki suasana yang penuh keintiman dengan Tuhan.
Lagu “Cinta di Hatiku” dengan bridge “I Surrender It All” menjadi benang merah penyembahan pagi itu. Melalui momen tersebut, Arinda mengajak seluruh generasi untuk kembali menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan. Menurutnya, penyembahan yang sejati bukan hanya dinyatakan melalui lagu, tetapi melalui kehidupan yang sepenuhnya dipersembahkan kepada Tuhan.
Arinda juga membagikan bagaimana Tuhan sejak awal membentuk hidupnya menjadi seorang penyembah yang mengenal Allah yang benar. Di tengah penyembahan, ia merasakan Tuhan sedang membangkitkan generasi baru yang berani merilis suara kerinduan kepada-Nya. Baginya, suara yang disampaikan Chelsea, Qesita, dan Reza bukan sekadar kesaksian pribadi, melainkan suara profetik yang mewakili kerinduan seluruh generasi.
Chelsea menjadi orang pertama yang membagikan kesaksiannya. Dengan jujur ia menceritakan pergumulan yang dialaminya dalam dunia perkuliahan hingga merasa gagal. Namun justru melalui proses tersebut ia belajar menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan dan menyadari bahwa hanya Tuhan yang menjadi tempat bersandar.
Ia juga membagikan pengalaman ketika melayani sebagai worship leader dalam ibadah pemuda beberapa hari sebelumnya. Saat itulah Tuhan berbicara bahwa Dia mendengar suara hati generasi ini. Pengalaman tersebut kembali ia alami pada Revival Night 1 ketika ia merasakan lawatan Tuhan yang begitu nyata.
Pesan yang paling menguatkan dari kesaksiannya adalah keyakinan bahwa Tuhan sedang menyendengkan telinga-Nya untuk mendengarkan suara generasi ini.
Kesaksian berikutnya datang dari Reza yang tahun ini memasuki usia 17 tahun. Ia mengingat kembali arti namanya sebagai “Penuai” dan percaya bahwa Tuhan sedang membangkitkan generasi penuai di Indonesia. Melalui lagu baru yang Tuhan berikan kepadanya, Reza berdoa agar tidak ada satu pun generasi yang tertinggal atau kehilangan pengharapan terhadap janji Tuhan.
Sementara itu, Qesita membagikan pengalaman yang ia alami ketika mengikuti Wind and Fire Conference di Medan. Saat itu ia mendengar suara tangisan, namun belum memahami maknanya. Jawaban baru ia terima ketika kembali menyembah Tuhan dalam Revival Night 1. Tuhan menunjukkan bahwa tangisan tersebut adalah tangisan generasi yang telah lama hilang, namun kini sedang dipanggil kembali kepada-Nya. Kesadaran itulah yang mendorongnya mengajak seluruh generasi untuk kembali berjalan bersama Tuhan.
Menanggapi rangkaian kesaksian tersebut, Pdt. Hanny melihat adanya pola pesan yang sedang Tuhan bangun. Menurutnya, pergumulan pribadi Chelsea telah menjadi bahasa air mata yang dipakai Tuhan untuk berbicara kepada banyak orang, sementara kesaksian Reza dan Qesita melengkapi pesan tersebut.
Sebuah pertanyaan profetik kemudian disampaikan kepada seluruh jemaat:
“Solo, apakah engkau mau menangis lagi bagi-Ku?”
Pdt. Hanny juga menyinggung identitas Reza yang berasal dari suku Sangihe, sebuah suku yang dikenal memiliki warisan penyembahan kepada Tuhan. Ia kemudian mendeklarasikan bahwa Solo tidak lagi hanya dikenal sebagai Spirit of Java, melainkan Tuhan sedang membawa kota ini menjadi The Spirit of God.
Pelayanan firman kemudian dilanjutkan oleh Pdt. Kiven yang membuka sesi dengan menyanyikan lagu “Karena Cinta”, khususnya bagian yang berbunyi, “Hari ini adalah lembaran baru bagiku.” Lagu tersebut menjadi pengantar pesan bahwa Tuhan sedang membuka lembaran baru bagi setiap generasi.
Melalui Amos 3:3, Pdt. Kiven menjelaskan bahwa sebuah perjanjian hanya dapat terjadi apabila dua pihak sepakat berjalan bersama. Demikian pula perjanjian ilahi terjadi ketika Tuhan sebagai Bapa dan manusia sebagai anak memilih untuk berjalan dalam kesatuan kehendak. Ia kemudian mengajak jemaat melihat Mazmur 40:8, bahwa kehidupan yang dipulihkan akan menjadi surat terbuka yang dapat dibaca oleh banyak orang.
Sebagai respons atas firman tersebut, seluruh jemaat yang ingin memperbarui komitmen mereka di hadapan Tuhan diajak maju ke depan. Dengan penuh kesungguhan mereka mengikat kembali perjanjian untuk terus berjalan bersama Tuhan hingga penggenapan rencana-Nya atas Indonesia.
Suasana altar dipenuhi oleh berbagai generasi yang merespons panggilan Tuhan. Ada yang memperbarui komitmen setelah bertahun-tahun melayani, ada pula generasi muda yang menyerahkan kembali masa depan, pendidikan, pelayanan, dan panggilan hidup mereka kepada Tuhan.
Pdt. Henry kemudian melanjutkan pelayanan doa. Ia menyampaikan bahwa Tuhan sedang membentuk kembali path of fire, jalur api yang akan dilalui oleh generasi-generasi di musim ini. Ia berdoa agar Tuhan membangkitkan para rasul, pendoa syafaat, penginjil muda, dan pemimpin-pemimpin baru yang akan dipakai membawa kebangunan rohani.
Deklarasi dari Yeremia 20:9 turut menguatkan seluruh jemaat bahwa api Tuhan akan terus menyala dalam hati setiap orang yang telah dipanggil-Nya, bahkan ketika menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Dalam pesannya, Pdt. Henry juga membagikan kesan yang ia terima dari Roh Kudus saat mengenakan kaus bertuliskan “For the Sake of the Generation, Send the Revival.” Menurutnya, Tuhan sedang memanggil para bapak dan ibu rohani untuk terus berjalan dan tetap setia demi generasi berikutnya, agar mereka dapat menyaksikan kebangunan rohani yang sedang Tuhan kerjakan.
Session 1 Wind and Fire Conference Solo Raya akhirnya ditutup dengan sebuah keyakinan bahwa Tuhan sedang menaburkan seed of longing—benih kerinduan yang baru—ke dalam hati umat-Nya. Kerinduan itu akan menjaga setiap generasi untuk tetap hidup dalam perjanjian dengan Tuhan, berjalan bersama lintas generasi, dan mengambil bagian dalam kebangunan rohani yang sedang Tuhan nyatakan atas Indonesia.



