BeritaMujizat.com – Poleksosbud – Teologi pembebasan kini muncul dan disuarakan dalam semangat kebencian yang luar biasa. Fenomena politik global yang terjadi belakangan ini memperlihatkan dengan jelas bagaimana teologi pembebasan telah disuarakan menjadi gerakan kebencian global.

Teologi pembebasan yang disuarakan dengan semangat kebencian menjadi pertarungan teologis dan ideologis yang membuat Gereja terbelah secara politik. Teologi pembebasan yang disuarakan dengan semangat kebencian juga menjadi bagian penting dari gerakan humanisme global.

Gerakan humanis global inilah yang menjadi faktor eksternal munculnya gejolak politik di berbagai bangsa. Teologi pembebasan yang disuarakan dengan semangat kebencian ini yang menyebabkan gejolak politik yang terjadi di Papua saat ini.

Teologi pembebasan juga dipakai oleh kelompok pendukung LGBTIQ dalam propaganda pernikahan sejenis. Kelompok Gereja fundamental dianggap sebagai penjajah dan penindas kelompok LGBTIQ yang harus dilawan.

Di Indonesia pergolakan dengan kelompok LGBTIQ belum begitu terlihat, akan tetapi berbeda dengan yang terjadi di AS. Pergolakan melawan kelompok LGBTIQ membuat Gereja dan kelompok fundamental mengalami tekanan yang luar biasa.

Teologi pembebasan sendiri muncul dari pemikir-pemikir Kristen yang memberikan resppon terhadap situasi politik sosial di Amerika Latin pada waktu itu. Rigoberta Manchú Tum, Frei Betto, Hugo Assmann dan Gustavo Gutiérrez adalah beberapa tokoh yang memunculkan pemikiran teologi pembebasan ini.

Teologi pembebasan pada umumnya berusaha membebaskan kaum-kaum yang dianggap termarginalkan, miskin, dan tertindas. Teologi pembebasan ini melihat bahwa kemiskinan, kekerasan, diskriminasi adalah persoalan struktural dan kesenjangan kelas.

Teologi pembebasan ini sebenarnya memberi pengaruh yang sangat besar pada partisipasi Gereja di ruang publik, terutama politik, Semangat pembebasan manusia secara utuh, menuntut Gereja agar berkontribusi dalam relasinya dengan pemerintah dan sosial.

Sayangnya teologi pembebasan kini dinarasikan untuk membenci pemerintah dan bahkan telah menyerang otoritas Gereja. Semangat kebencian ini bahkan mendorong Gereja keluar dari tahta kasih karunia Allah, menuju humanisme total.

Semangat memerdekakan justru menjerumuskan Gereja dalam kebencian atau skeptisme terhadap sistem politik atau sosial disekitar mereka. Generalisasi bahwa semua otoritas adalah korup dan jahat membuat Gereja tidak mempercayai adanya proses perubahan yang dilakukan oleh anak-anak Tuhan yang ada di dalam sebuah sistem.

Dalam konteks sejarah politik dan sosial di Indonesia, Gereja dan tokoh-tokoh Kristen berperan aktif dan berpartisipasi membangun Indonesia. Moral dan nilai- nilai Kekristenan turut disumbangkan oleh para tokoh Kristen dalam menyusun sistem pemerintahan.

Fenomena politik Ahok juga menunjukan bagaimana Gereja seharusnya juga harus berkontribusi dan melihat proses perubahan yang terjadi di dalam sebuah sistem, Kemampuan melepaskan diri dari kebencian yang sengaja di produksi dan disebar, menjadi PR besar Gereja dalam berpartisipasi dan aktif diruang-ruang publik.

 

Penulis : GIlrandi ADP

Comments

https://i1.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2020/11/teologi-pembebasan.jpg?fit=600%2C338&ssl=1https://i1.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2020/11/teologi-pembebasan.jpg?resize=600%2C338&ssl=1Gilrandi ADPPoleksosbudpolitik,teologi pembebasanBeritaMujizat.com - Poleksosbud - Teologi pembebasan kini muncul dan disuarakan dalam semangat kebencian yang luar biasa. Fenomena politik global yang terjadi belakangan ini memperlihatkan dengan jelas bagaimana teologi pembebasan telah disuarakan menjadi gerakan kebencian global. Teologi pembebasan yang disuarakan dengan semangat kebencian menjadi pertarungan teologis dan ideologis yang membuat Gereja terbelah...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan