Pesan Mimbar

Hati dan Posisi


 

BeritaMujizat.com – Pesan Mimbar – Movement atau pergerakan itu berasal dari sebuah kebangunan yang di mulai dari sebuah keluarga. Sebuah cerita yang sangat terkenal tentang anak sulung dan anak bungsu (Lukas 15).

Kenyataannya si sulung tidak mau bersukacita ketika melihat adiknya kembali ke rumahnya bersama dia dan bapanya. Bahkan si sulung tidak mau kembali masuk untuk merayakan kembalinya adiknya dan justru si sulung malah menggerutu dan menyalahkan bapanya yang di rasa sangat pilih kasih.

1. Si Sulung Kehilangan Hati Bapa

Dalam kehidupan sehari-hari sering kali kita menjalani kehidupan kita hanya sekedarnya tanpa mengerti maksud dari Bapa kita. Kebanyakan orang-orang yang sering melayani akan terjebak dalam melayani tanpa hati dan bisa menjadi dingin dan suam-suam seperti dalam Wahyu 3:16 (TB) Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.

Anak sulung itu memang tidak kelihatan tapi tak kalah beda dengan adiknya yang sesungguhnya melakukan banyak kesalahan kepada bapanya. Aktivitas anak sulung dan bungsu sama-sama melakukan hal yang tidak menyukakan hati bapanya. Tapi yang membedakan anak sulung dan anak bungsu adalah respon hati. Sesungguhnya respon yang benar yang sesungguhnya yang dicari oleh bapanya.

Untuk kembali kepada hati Tuhan itu tidak perlu menunggu gedung gereja ini dibuka saat masa pandemik seperti ini. Bahkan ketika kita bisa mengikuti dalam ibadah online sekalipun, hati kita bisa pulih dan kembali kepada Tuhan. Tuhan sedang berbicara keras dalam hidup kita melalui Covid-19. Supaya kita bisa melihat kebesaran dan kedaulatan Tuhan, dan hanya Tuhan yang sanggup mengendalikannya.

Si sulung ini juga menjadi sindrom bagi orang yang masih bertahan sampai sekarang ini. Sering kali, kita terjebak dalam kondisi yang sulit melihat kasih Bapa yang sungguh disediakan bagi kita. Perumpamaan ini dalam kitab suci ditujukan kepada orang yang beragama yang sudah mengerti banyak hal.

Ini bertujuan untuk mengembalikan hati kita kepada Bapa. Dan hanya Tuhan yang bisa membuat hati kita kembali kepada Bapa. Bapa tidak akan suka bila melihat kita anak-anaknya sakit. Dia akan selalu menunggu kita, Dia akan selalu ingin kita kembali dan mendekat kepadaNya.

Yang bungsu sadar akan setiap kesalahannya dan memutuskan untuk kembali ke rumah bapanya, maka dia beranjak menuju ke rumah bapanya. Sedangkan si sulung justru yang selalu bersama dengan bapanya di rumah, justru tidak mengerti hati bapanya.

Si sulung tidak mau masuk ke dalam rumah. Karena yang di pikir si sulung yang menyenangkan hati bapanya adalah bekerja. Padahal lebih dari itu adalah hati kita yang di kejar oleh Bapa. Jangan sampai kita kehilangan hati Bapa, padahal kita mengerjakan pekerjan bapanya.

2. Degradasi Posisi

Si sulung menempatkan hatinya sebagai budak bukan sebagai anak. Orang sulung berpikir bahwa hal yang menyenangkan bapa itu adalah bekerja padahal adalah hati kita yang mengerti hati bapanya itulah kesukaan bapanya begitu juga ketika kita melakukan kehendak bapa maka itu yang menyukakan hati Bapa kita.

Budak itu menerima upah tapi anak mendapatkan warisan. Anak sulung seperti anak yatim yang tidak menyadari bahwa bapa itu minta hatinya bukan yang dia kerjakan. Jangan seperti anak sulung yang seperti anak yatim yang mendapatkan upah bukan warisan.

Dalam Kisah Para Rasul 17:25 ketika kita keluar dari kasih Tuhan maka kita akan kehilangan hati Bapa. Ada penurunan posisi dan hati ketika kita tidak sesuai yang bapa mau. Ada penurunan dari posisi anak menjadi budak. Tuhan ingin mengembalikan posisi anak-anaknya. Si sulung dan si bungsu harus berada di tempat yang sama yaitu di rumah bapanya supaya hati mereka dikembalikan.

Lewat Covid ini Tuhan berbicara supaya hati kita membara kembali. Ini waktunya kerja dan mengerjakan dengan hati. Bapa bicara kepada si sulung, karena semua milik bapa adalah miliknya. Kita mulai mengejar dan mengerti yang Tuhan mau.

Kita mulai kembali ke posisi dan hati dengan tepat. Semua harus keluar dari kita dan kita tahu identitas kita dan hati kita akan mendapatkan hasilnya yang berbeda. Karena kita tau siapa Bapa kita oleh sebab itu jangan bertindak sebagai budak.

3. Si Sulung Tidak Tahu Hati Bapa (sudut pandang)

Ketika bapa membuat pesta buat si bungsu yang sudah kembali, maka si sulung tidak mengerti hati bapa. Si sulung melihat bahwa adiknya ketika dia pergi dari rumah. Bukan melihat ketika dia kembali ke rumah. Si sulung tidak pernah tahu proses yang sudah di alami oleh si bungsu sampai harus makan ampas babi.

Akan banyak anak bungsu yang kembali. Jangan merespon seperti anak sulung. Sering kali kita mudah menghakimi orang lain. Jangan menilai orang hari ini dengan apa yang sudah diperbuat di masa lalu. Kita tidak pernah tau proses yang sudah di alami.

Jangan menghakimi dan punya sindrom anak sulung. Jadilah seperti bapa yang tidak mengingat kesalahan anaknya yang bungsu. Sering kali selalu melihat anak bungsu dan kesalahannya. Dan lupa dengan kehidupan anak sulung juga yang tidak kalah benarnya seperti anak bungsu.

Dalam Kejadian 21:14 -18 yang terjadi dalam kehidupan awam seperti Ismael, dia punya masalah yaitu mengusir Hagar dan Ismael. Keluarga Ismael lahir dalam ketertolakan bapanya. Dan ini menjadi hidup yang begitu keras. Salah satu solusi dan jawaban adalah dengan penerimaan dari ketertolakan. Ini wakunya kita mengembalikan yang sudah hilang yaitu dengan cara menerima kembali.

Kasih itu mempunyai peranan yang penting untuk menerima kembali hidup orang lain. Kita perlu menjadi anak sulung yang bisa menerima kembali adiknya pulang bukan mengkritik atau menyalahkan adiknya yang sudah melakukan kesalahan. Sikap sulung tidak sabar dan justru tidak mau bertanya dahulu kepada adiknya apa yang sudah dia alami selama dia pergi dari rumahnya.

4. Jangan Salah Merespon Seperti Si Sulung

Si sulung dan bungsu memiliki porsi yang sama. Dalam Lukas 15:12 si sulung mendapat harta yang sama seperti bungsu menerima. Si sulung sudah mendapat haknya tapi marah ketika adiknya kembali. Kita punya bagian yang sama dan tidak perlu mempunyai respon yang salah. Si sulung merasa bahwa bapanya tidak ada bersama dia. Tidak merasa bahwa bapa ada menyertai sulung.

Kita jangan punya sindrom anak sulung. Jangan terjebak dalam pemikiran anak sulung dan berada dalam kehidupan anak yatim. Kita perlu mengerti betul bahwa bapa selalu bersama dengan si sulung. Setiap dari kita bisa dipakai Tuhan karena kita semua anak-anakNya Tuhan. Setiap kita punya bagian yang sama untuk menjadi anak yang kembali kepada bapanya.

Kepunyaan bapa adalah kepunyaan anak sulung juga. Jangan membiarkan sindrom dan hati anak sulung itu ada dalam hidup kita. Semua perlu mengerjakan dengan baik dan kita memberikannya untuk Tuhan. Bukan hanya pesta tapi keberadaan anak sulung dan anak bungsu dengan bapanya yang akan terjadi ketika mereka mengerti hati bapanya dan mau selalu bersama sama.

Ketika anak sulung dan bungsu bersama dengan bapa adalah pesta yang sesungguhnya. Kita akan disertai Tuhan. Semua di berkati dan kembali serta mengerjakan apa yang maunya Tuhan. Kita semua perlu kembali kepada hati Tuhan. Status hidup kita boleh berubah tapi mengerjar hati Tuhan itu harus baru setiap hari. Maka kita akan selalu bersama-sama dengan Bapa kita.

Firman Tuhan ini disampaikan oleh Bp. Pdt. Benyamin Henry Setiawan, S.Miss pada hari Minggu, 25 Juli 2021. Ibadah sore gereja Bethany El Bethel Solo Baru.

Comments

Related Articles

Back to top button