child-praying

BeritaMujizat.com – Mandat Budaya – Suka atau tidak suka, politisasi agama terbukti telah berhasil menumbangan politik kinerja yang selama ini terbukti melakukan terobosan nyata. Suka tidak suka pula, politisasi agama pasti akan terus dipakai sebagai strategi politik untuk memenangi kontes politik di level manapun.

Akan tetapi sorak-sorai kemenangan politisasi agama harus dibayar mahal oleh kita semua saat ini. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNASHAM) mencatat sikap intoleransi di masyarakat meningkat dengan cukup signifikan setelah muncul isu politisasi agama (sumber) .

Baca juga: Menyiapkan Anak Menghadapi Jaman yang Tidak Menentu

Masyarakat juga dibuat muak oleh berita-berita hoax yang sempat beredar di media sosial. Berita-berita hoax ini menyebarkan virus kebencian yang membuat masyarakat terpecah belah. Yang paling memprihatinkan adalah banyak orang kemudian menjadi skeptis terhadap agama.

Meskipun tidak langsung meninggalkan aktivitas ibadah mereka, akan tetapi banyak orang mulai enggan untuk menempatkan pendidikan agama sebagai prioritas. Ditambah lagi bertumbuh suburnya paham ektrimis di dalam institusi pendidikan, membuat orang semakin skeptis terhadap pendidikan agama.

Ini merupakan pukulan telak bagi para pendidik dan relawan pendidikan yang masih terus berjuang mengajarkan nilai-nilai luhur Ketuhanan. Bagaimana mengajarkan bahwa Tuhan itu kasih, sedangkan setiap hari-hari anak-anak melihat realita bahwa justru orang saling membenci bahkan membunuh karena agama.

Bagaimana pendidik mengajarkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan budaya, sedangkan setiap hari mereka melihat manusia tidak diperlakukan selayaknya manusia apabila mereka berbeda keyakinan.

Hal ini tentu menjadi tembok penghalang bagi anak-anak dalam mengenal Tuhan. Kita harus sadar bagaimana Tuhan Yesus sangat marah apabila ada sesuatu yang menghalangi anak-anak bertemu dengan Tuhan.

Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. (Markus 10:14)

Dalam hal ini, kita sebagai orang tua, guru, atau relawan pendidikan lain berhak marah kepada politisi atau partai yang sengaja menggunakan politisasi agama sebagai strategi politik. Jika kita biarkan politisasi agama terus berlanjut maka anak-anak kita, murid-murid kita akan terancam masa depannya.

Mereka akan tumbuh dewasa dengan pemahaman bahwa Tuhan tidak ada dan tidak nyata. Mereka bahkan akan membenci agama dan tidak perduli lagi nilai-nilai luhur Ketuhanan. Kita tentu tidak ingin melahirkan generasi yang kehilangan Tuhan. Jangan ragu untuk tidak mendukung politisi atau partai politik yang menggunakan isu agama sebagai strategi politik.

 

Penulis : Gilrandi ADP

Sumber gambar

Comments

http://i1.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2017/12/child-praying.jpg?fit=600%2C398http://i1.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2017/12/child-praying.jpg?resize=600%2C398Gilrandi ADPMandat Budayapendidikan agama,Politasi politik,Sketis terhadap pendidikan agamaBeritaMujizat.com - Mandat Budaya - Suka atau tidak suka, politisasi agama terbukti telah berhasil menumbangan politik kinerja yang selama ini terbukti melakukan terobosan nyata. Suka tidak suka pula, politisasi agama pasti akan terus dipakai sebagai strategi politik untuk memenangi kontes politik di level manapun. Akan tetapi sorak-sorai kemenangan politisasi agama harus...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan