RevivalSosok

The Great Awakening: Peran Jonathan Edwards dalam Sejarah Gereja Amerika


BeritaMujizat.com – Sosok – Jonathan Edwards adalah seorang teolog yang sangat memengaruhi peristiwa Revival di Amerika. Jonathan Edwards adalah seorang pendeta Kongregasionalis yang banyak membela ajaran Calvinis.

Jonathan Edwards lahir pada 5 Oktober 1703 di East Windsor,Connecticut,Amerika Serikat. Ayahnya, bernama Timothy Edwards, ia seorang pendeta di East Windsor,sedangkan Ibunya Ester Stoddard putri dari Pendeta Salomo Stoddard dari Northampton, Massachusetts. Jonathan Edwards juga satu-satunya anak laki-laki dari sebelas anak.

Pada usia 24 tahun, Jonathan Edwards menjadi pendeta di jaringan gereja Kristen Congregational, yaitu kumpulan gereja-gereja Kristen lokal otonom yang menganut doktrin Reformed.

Jonathan Edwards masuk didunia pelayanan Kristen,pada tahun 1727 menjadi asisten pendeta di Northampton, Massachusetts. Pada tahun yang sama ia pun menikah dengan Sarah Pierrepont. Sebagai pemimpin Kristen dan ahli teologi, Jonathan Edwards berkembang menjadi teolog Amerika yang memengaruhi kebangunan rohani di Amerika.

Jonathan Edwards menerima ide tentang kehendak bebas secara sangat terbatas, dengan pengertian manusia bebas berlaku menurut kehendak mereka masing-masing. Pada tahun 1734, Jonathan Edwards mewartakan pesan Calvinis tentang kebenaran atas dasar iman dengan gencar. Akibatnya, dalam waktu setahun hampir seluruh penduduk dewasa di Massachusetts, Northampton menjadi Kristen.

Tanpa ia sadari, hal itu mengakibatkan jemaatnya ikut bangkit. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan nama The Great Awakening (Kebangunan Rohani Besar), yang meluas pada seluruh gereja di Amerika Utara. Selain itu Jonathan Edwards juga memiliki sejumlah tulisan yang isinya adalah pembelaan terhadap predestinasi Calvin.

Salah satu khotbahnya yang paling terkenal berjudul “Sinners in the Hand of an Angry God” (Orang-orang Berdosa di Tangan Allah yang Murka), yang memberi penekanan khusus terhadap murka Allah atas dosa dan atas manusia yang berdosa.

Ia juga menulis risalah-risalah yang membela sekaligus mengkritik kebangunan rohani. Kiprah pelayanan Kristen Jonathan Edwards membuatnya hingga kini disebut sebagai filsuf terbesar, karena karyanya, “Freedom of Will” (Kemerdekaan Berkehendak).

Sepanjang ratusan tahun, Jonathan terus-menerus mempertahankan posisinya sebagai teolog terkemuka Amerika dan dicintai generasi demi generasi baru di dunia gereja. Secara pribadi, Jonathan merupakan tokoh abadi yang menarik perhatian dan menjadi teladan bagi banyak orang karena penyerahan dirinya yang total kepada Tuhan: segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan.

Tidak lama setelah itu Jonathan Edwards terkena cacar pada 1758, akibat suntikan anti cacar yang diterimanya ketika wabah penyakit itu melanda di tempat pelayanannya. Saat itu pun, ketika teman-teman dan kerabat yang menjenguk sibuk mengkhawatirkan dampak kematian sang Ketua Perguruan Tinggi terhadap pihak kampus serta sang pengkhotbah besar terhadap wilayah-wilayah koloni Amerika, Jonathan Edwards yang terbaring lemah di ranjang justru berteriak menyahut, “Percaya saja kepada Tuhan, kalian semua tak perlu takut.”

Namun, bahkan menjelang kematiannya yang telah jelas dan pasti, tapi Jonathan Edwards terus beriman teguh dan menguatkan iman orang-orang lain di sekitarnya.

Jonathan Edwards akhirnya meninggal pada tanggal 22 Maret 1758, di Princeton, New Jersey. Jasadnya dikuburkan di Princeton Cemetery.

Di sepanjang hidupnya, Jonathan Edwards kemudian dikenal sebagai filsuf, teolog, pendeta, pengajar (dosen, tutor), dan misionaris.

Comments

Related Articles

Back to top button