Pertempuran antara benar dan salah merupakan pertempuran yang sudah berumur ribuan tahun. Sejak buah pengetahuan baik dan jahat itu dimakan, manusia sudah kehilangan hak istimewa untuk tidak mengetahui yang jahat.

Artinya keadaan sebelum dosa adalah semuanya baik dan benar. Menyenangkan sekali. Tetapi apa daya, kita harus melalui realitas ini. Kita harus bertempur setiap hari, setiap hal, bahkan setiap pemikiran untuk menentukan yang benar dan salah.

Bahkan ketika kita pun harus berhati-hati, jangan asal percaya dengan “yesus” karena rupa-rupanya ada Yesus yang lain. Mengejutkan? Mungkin. Tapi lebih gila lagi kalau jangan-jangan selama ini kita menyembah Yesus yang beda dari Yesus yang Firman Tuhan katakan. Paulus dengan keras menegur jemaat Korintus dan mengatakan sebagai berikut:

Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima. (II Kor. 11:4)

Ada tiga hal yang patut kita garis bawahi dari ayat ini.

Berita (message) yang salah akan membawa kepada Yesus yang salah. Sebab itu sangat penting kita benar-benar membaca, merenung Firman dan hidup didalamNya. Firman itu adalah sesuatu yang hidup, tidak sekedar dipelajari dengan sistematika atau dengan alat-alat biblika.

Tetapi Firman itu harus bisa menjadi daging (me-rhema) didalam kehidupan kita. Tetapi dipihak lain, kita harus menyadari Firman Tuhan (logos) ditulis dalam bahasa dan budaya manusia. Kita harus mempelajari apa yang Roh Kudus wahyukan kepada para penulis sesuai waktu dan jamannya sehingga secara kontekstual wahyu itu menjadi berarti dan benar. Yang paling penting dalam menemukan berita yang benar adalah pewahyuan. Tanpa pewahyuan, metode yang benar tetap akan membawa kepada pesan yang salah.

Roh yang salah. Berita yang benar tetapi ditujukan dengan motivasi yang tidak benar akan menjadi salah. Contoh adalah orang-orang farisi. Banyak hal yang mereka kerjakan adalah benar. Tetapi Tuhan katakan yang penting itu adalah belas kasihan. Bukan sekedar korban. Artinya Tuhan melihat hati. Apa yang dilakukan jemaat Korintus adalah “super spirituality.” Mereka berbahasa roh, bernubuat diluar konteks dan dengan motivasi kesombongan. Sehingga Paulus katakan seperti gong yang gemerincing. Tidak ada Tuhan disitu.

Sikap yang salah. Kita harus uji setiap roh. Dan harus tegas dalam memilih kebenaran. Seringkali karena “sungkan” kita melacurkan banyak hal dalam kehidupan kita. Kebenaran kadang menyakitkan (truth hurts). Tetapi itulah bagian dari harga yang harus kita bayar dalam mencari kebenaranNya.

Sebab itu mari kita lebih dalam dan lebih berhati-hati lagi dalam memilih jalan-jalan kita. Karena ternyata ada yesus-yesus yang lain. (yhs)

 

Daily Seeking God
– 10 Tahun Perenungan Mencari Tuhan –

Daily Seeking God adalah kumpulan tulisan Hanny Setiawan selama 10 tahun.  Ditulis secara spontan ketika ada pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri.  Dengan mengikuti “renungan harian” ini diharapan bisa mengerti pergumulan batin selama 2009-2019 penulis.

Comments

https://i1.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2020/03/Daily-Seeking-God.png?fit=1000%2C563&ssl=1https://i1.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2020/03/Daily-Seeking-God.png?resize=1000%2C563&ssl=1adminDaily Seeking GodPertempuran antara benar dan salah merupakan pertempuran yang sudah berumur ribuan tahun. Sejak buah pengetahuan baik dan jahat itu dimakan, manusia sudah kehilangan hak istimewa untuk tidak mengetahui yang jahat. Artinya keadaan sebelum dosa adalah semuanya baik dan benar. Menyenangkan sekali. Tetapi apa daya, kita harus melalui realitas ini. Kita...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan