Pengenalan kita akan Tuhan tidak akan pernah sampai kemana-mana tanpa pertemuan pertama. Pertemuan pertama kita dengan Yesus, seperti Saulus di jalan ke Damsyik ini sangat mempengaruhi perjalanan kita mengikut Dia. Doa singkat kita menerima Yesus dalam hati percaya, mulut mengaku Dia seringkali menjadi pengalaman “manis” yang kita ceritakan sebagai pertemuan kita yang pertama. Tapi apakah demikian adanya?

Apakah kita sudah mengalami yang Saulus alami (Kis. 9:1-9), apakah kita sudah mengalami yang sida-sida dari Etiopia alami (Kis. 8:27-39)? Apakah kita mengalami “ayam berkokok” kepada kita (Mat. 26:74-75)?.

Sebetulnya apa yang seharusnya terjadi dalam pertemuan pertama kita dengan Yesus?. Pertanyaan yang sama ditujukan kepada Petrus di hari pentakosta. Hari yang diyakini sebagai lahirnya sebuah era gereja yang baru.

Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: “Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?”

Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.” (Kis. 2:37-39).

Suatu pertanyaan yang polos dan langsung yang harus kita tanyakan ke diri kita sendiri juga. Apakah kita sudah melakukan yang seharusnya kita perbuat? Lebih dari sekedar hati percaya dan mulut mengaku, tapi sebuah proses kelahiran baru (II Kor. 5:17) yang sebenarnya.

Kemustahilan yang dimungkinkan karena korbanNya di golgota. Kemustahilan yang Nikodemus pertanyakan (Yoh. 3). Petrus dengan ilham Roh Kudus mengatakan ada 3 elemen yang mewarnai “pertemuan pertama” kita di era yang baru. Era yang terjadi setelah kebangkitan Kristus, setelah turunnya Roh Kudus.

1. Pertobatan

Pertobatan yang benar akan membawa kepada kekristenan yang benar. Seringkali pertobatan kita hanyalah pertobatan yang tipis, tidak dalam. Tidak ada seorang pun yang tidak BERUBAH ketika bertemu dengan Pribadi yang luar biasa ini. “Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu” (Mat. 13:45-46).

Pertobatan sejati terlihat dari seberapa kita berbalik dan menyerahkan diri kepadaNya. Harus TOTAL dan MENYELURUH. Diluar itu bukan pertobatan. Itu hanya ketertarikan kepada PribadiNya. Karena tidak bisa dipungkiri, Yesus adalah pribadi yang sangat menarik. Sejarah sudah menulis dan membuktikan. Tapi bukan ketertarikan yang di inginkan. Penyerahan sepenuhnya yang disyaratkan. Betulkah kita sudah sungguh-sungguh bertobat?.

2. Baptisan

Baptisan seringkali hanya menjadi suatu hal yang seremonial dan tidak berarti banyak dalam perjalanan mengikut Dia. Padahal baptisan selalu menyertai setiap pertobatan yang ditulis di Alkitab. “Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Rom.6:3-4). Ketika kita dibaptis, maka yang terjadi adalah terjadi “kematian” di alam yang tidak kelihatan (baca: alam roh). Jadi bukan sekedar simbol seperti kepercayaan selama ini. Tapi benar-benar kita secara deklarasi mati. Adam yang lama mati, Adam yang baru MENGGANTIKANnya. Lahirlah ciptaan yang baru. Luar biasa!

3. Roh Kudus

Setiap pertobatan selalu disertai dengan manifestasi pekerjaan Roh Kudus dalam kehidupan kita. Tidak akan ada kehidupan baru tanpa Roh Kudus. Tidak ada juga pengenalan tanpa Roh Kudus. “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” (Yoh. 16:13). Jadi bagaimana mungkin mengikut Dia tanpa Roh Kudus? Mengenal Roh Kudus adalah bagian dari proses kelahiran baru. “Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. ” (Yoh. 3:5)

Berita yang salah tentang keselamatan sejati, proses kelahiran baru yang benar, hanya akan membawa kepada kekristenan yang lemah dan sakit-sakitan. Tapi pertobatan, baptisan yang benar, dan kehadiran Roh Kudus akan membawa kepada iman yang kokoh dan pengenalan yang dalam. (yhs)

 

Daily Seeking God
– 10 Tahun Perenungan Mencari Tuhan –

Daily Seeking God adalah kumpulan tulisan Hanny Setiawan selama 10 tahun.  Ditulis secara spontan ketika ada pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri.  Dengan mengikuti “renungan harian” ini diharapan bisa mengerti pergumulan batin selama 2009-2019 penulis.

 

 

Comments

https://i1.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2020/03/Daily-Seeking-God.png?fit=1000%2C563&ssl=1https://i1.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2020/03/Daily-Seeking-God.png?resize=1000%2C563&ssl=1adminDaily Seeking Godmanna harian,Renungan HarianPengenalan kita akan Tuhan tidak akan pernah sampai kemana-mana tanpa pertemuan pertama. Pertemuan pertama kita dengan Yesus, seperti Saulus di jalan ke Damsyik ini sangat mempengaruhi perjalanan kita mengikut Dia. Doa singkat kita menerima Yesus dalam hati percaya, mulut mengaku Dia seringkali menjadi pengalaman 'manis' yang kita ceritakan sebagai...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan