BeritaMujizat.com – Pendidikan – Media sosial saat ini berubah menjadi media edukasi yang sangat mempengaruhi oleh generasi muda. Perilaku-perilaku yang ditunjukan oleh generasi muda saat ini sebagian besar terinspirasi oleh konten-konten yang berseliweran di media sosial.

Pesan-pesan yang muncul dan viral di media sosial dengan cepat mengkonstruksi pola pikir dan perilaku generasi muda.  Kemudahan, kebebasan, kesenangan, dan popularitas yang ditawarkan membuat media sosial begitu berpengaruh dalam kehidupan generasi muda.

Fitur-fitur yang semakin canggih dan menarik menjadikan media sosial sebagai tempat yang nyaman untuk mencari jatidiri bagi generasi muda.  Informasi dan pesan yang muncul di media sosial juga terbungkus secara rapi dalam konten-konten yang menarik dan menghibur.

Contoh salah satu aplikasi media sosial yang saat ini digandrungi oleh anak muda adalah TikTok. Tiktok adalah media sosial yang menampilkan pesan melalui video singkat dengan musik dan fitur-fitur menarik lainnya. Selain itu ada juga Instagram yang juga sering diakses oleh generasi muda. Penyampaian pesan melalui sejauh desain grafis dan video menarik juga membuat Instagram menarik bagi generasi muda.

Namun seringkali tidak disadari apa pesan atau nilai yang terselip dalam sebuah konten yang ada media sosial tersebut. Kesenangan-kesenangan yang dicari dan dinikmati tanpa sadar membentuk sebuah makna, kemudian membentuk sebuah pola pikir. Anak yang sudah mengalami proses pemaknaan tersebut sekarang bahkan membagikan dan menyebarluaskan kepada anak-anak yang lain.

Salah satu contoh yang terlihat jelas adalah bagaimana anak-anak sekarang sudah terikat dengan pacaran sejak dini. Lagu-lagu, drama, meme-meme tentang percintaan yang setiap hari didengar dan dilihat anak membentuk pola pikir dan perilaku anak tentang berpacaran.

Pacaran yang seharusnya merupakan porsi orang dewasa, saat ini menjadi konsumsi anak-anak, bahkan di usia yang sangat dini. Pacaran bahkan menjadi salah satu tujuan yang dikejar oleh generasi muda dalam menjalin interaksi sosial.

Anak-anak bahkan dapat memberikan label bahwa pacaran adalah kesenangan yang harus didapat. Anak yang tidak berpacaran bahkan dianggap sebagai orang yang susah atau menderita. Banyak kemudian terikat dan terjerumus dalam seks bebas karena pandangan yang salah tentang pacaran.

Contoh yang lain adalah bagaimana generasi muda memamerkan perbuatan-perbuatan tidak senonoh di media sosial. Keberanian melakukan tindakan tidak senonoh di media sosial supaya mereka mendapat pengakuan. Selain itu mereka terinspirasi oleh ajak-ajak yang bersifat memberikan tantangan kepada generasi muda.

Dalam menghadapi tantangan yang muncul dari media sosial ini, banyak pendidik Kristen (orang tua dan guru) masih fokus pada pendekatan pendidikan berbasis aturan. Aturan-aturan ditetapkan supaya mengalihkan perhatian dan meminimalisir pengaruh media sosial pada anak.

Dalam pendekatan berbasis aturan ini pendidik biasanya menerapkan pengaturan waktu mengakses media sosial. Akses media sosial kemudian diberikan sebagai reward setelah anak selesai menyelesaikan proses belajar yang dirancang.

Sampai saat ini beberapa pendidik bahkan masih mengharamkan media sosial bagi generasi muda. Mereka tidak mau mengambil pusing dengan dinamika yang ada di media sosial. Mereka menganggap media sosial hanya boleh diakses oleh orang dewasa yang sudah dianggap matang.

Pendekatan pendidikan berbasis aturan ini sesungguhnya sangat rapuh untuk menghadapi sistem pembelajaran yang telah terbentuk kuat di media sosial. Pendekatan pendidikan berbasis aturan bahkan sangat kontra produktif bagi kemampuan daya serap anak. Meskipun begitu akses terhadap media sosial tetap perlu diatur terutama dalam hal untuk kesehatan anak.

Anak-anak bahkan dapat mengalami frustasi belajar yang semakin menjauhkan anak dengan didikan. Peristiwa pembunuhan seorang guru agama oleh murid yang terjadi beberapa waktu lalu menunjukan bahwa frustasi belajar merupakan hal yang nyata dalam pendidikan.

Oleh karena itu pendidik Kristen perlu mentransformasi cara mendidik anak. Untuk melakukan transformasi kita dapat melihat pola-pola yang terbentuk dalam proses interaksi antara media sosial dan anak. Dari pola interaksi tersebut kita dapat melihat apa yang membuat anak begitu terpengaruh dengan media sosial.

Seperti halnya sifat yang dimiliki media sosial sebagai media belajar, pendidikan harus memberi ruang pada anak. Ruang untuk bertanya atau refleksi, mencurahkan isi hati, dan tentunya untuk berkreasi. Pengaruh kuat media sosial semakin menegaskan bahwa pembelajaran tidak dapat berjalan satu arah, pendidik memberi pengajaran, murid menerima bahan ajar.

Media sosial berhasil menjadi media belajar bagi generasi muda karena ada proses interaksi didalamnya. Empati yang muncul dari pesan-pesan yang disampaikan di media sosial mendorong anak untuk secara suka rela menerima dan mengolah pesan tersebut.

Melalui media sosial, anak-anak bernyanyi, menari, dan bercerita bersama dengan para pembawa pesan.  Proses saling interaksi inilah yang membuat proses transfer nilai menjadi mudah dilakukan. Dalam hal ini pendidik Kristen harus mulai mengambil titik mula yang sama dalam mendidik.

Pengenal akan Tuhan sebagai bagian terpenting dalam kehidupan manusia harus dimulai dari pendidik terlebih dahulu. Pendidik bersama anak belajar meresapi dan melakukan kebenaran firman Tuhan. Transformasi dalam hal ini mungkin paling sulit dilakukan. Namun jika proses transformasi ini tidak terjadi maka semua proses transformasi lain yang lebih ke teknis atau strategis tidak akan berjalan optimal.

Inilah sebabnya mengapa Tuhan Yesus pernah menyuruh orang-orang dewasa, bahkan didalamnya orang-orang farisi dan ahli Taurat untuk belajar kepada anak tentang kerajaan Surga. Belajar pada anak yang dimaksud tentu bukan karena anak tersebut mempunyai pengetahuan lebih dari orang dewasa, akan tetapi pendidik tidak dapat mendidik dengan baik ketika mereka tidak mau belajar.

Kesaksian pertobatan yang dialami pendidik menjadi sangat penting sebagai pintu masuk bagi generasi muda menerima didikan tentang Tuhan. Seperti juga media sosial yang bersifat terbuka untuk menerima semua perasaan dan perasaan, pendidikan juga harus dapat mendorong anak untuk terbuka.

Pendidikan Kristen harus dapat  mengakomodir perasaan ingin diakui, perasaan ingin dicintai, perasaan takut dikecewakan yang mulai tumbuh pada generasi muda. Hal ini menunjukan bahwa pendidikan bukan hanya soal otak saja melainkan juga soal tentang hati yang berhubungan dengan perasaan.

Perasaan ingin diakui dan dicintai muncul karena manusia memang tidak mengenal kasih yang sejati dari Allah. Kekosongan hati tersebut mungkin dapat sedikit terobati dengan hiburan yang ada di media sosial, Akan tetapi kita tentu tahu bahwa hanya kasih Kristus yang tanpa syaratlah yang dapat kekosongan hati setiap manusia.

Dalam ini pendidik Kristen seharusnya sangat antuasias untuk menjadikan proses pembelajaran sebagai proses pengkabaran Injil pada generasi muda. Realita bahwa Tuhan tabib yang justru hadir untuk orang-orang, gagal, lemah dan terluka dapat menjadi pesan penting yang selalu dibawa oleh pendidik Kristen dalam mendidik generasi muda.

 

Penulis : Gilrandi ADP

Comments

https://i0.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2020/05/109103217_gettyimages-1058608320-1.jpg?fit=600%2C337&ssl=1https://i0.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2020/05/109103217_gettyimages-1058608320-1.jpg?resize=600%2C337&ssl=1Gilrandi ADPPendidikanmedia sosial,Pendidikan,TransformasiBeritaMujizat.com - Pendidikan - Media sosial saat ini berubah menjadi media edukasi yang sangat mempengaruhi oleh generasi muda. Perilaku-perilaku yang ditunjukan oleh generasi muda saat ini sebagian besar terinspirasi oleh konten-konten yang berseliweran di media sosial. Pesan-pesan yang muncul dan viral di media sosial dengan cepat mengkonstruksi pola pikir dan...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan