Foto oleh Sharon McCutcheon dari Pexels

BeritaMujizat.com – Poleksosbud – Para pendukung LBGTQ (Lesbian, Biseksual, Gay, Transgender, Queer) yang ngotot bahwa LGBTQ bukan dosa sebaiknya jangan memaksakan diri untuk menjadi orang Kristen. Apalagi sampai berusaha memaksakan Gereja untuk mengakui bahwa LGBTQ adalah kenormalan yang harus didukung.

Hal ini bukan berarti Kekristenan menutup diri atau bahkan mendiskriminasikan kaum LGBTQ. Kekristenan merupakan kabar baik bagi semua orang, tidak terkecuali bagi kaum LGBTQ. Akan tetapi Kekristenan seperti agama-agama yang lain, mempunyai pokok-pokok kebenaran yang tidak dapat ditawar atau dikompromikan.

Alkitab telah dengan tegas dan jelas menyatakan bahwa penyimpangan seksual adalah praktik dosa yang harus ditinggalkan. Alkitab secara kosisten menyatakan penyimpangan seksual adalah dosa yang harus ditinggalkan manusia.

Dalam 1 Korintus 6 : 9-10 dengan tegas menyatakan bahwa penyimpangan seksual harus ditinggalkan untuk mendapatkan keselamatan dari Allah. Dalam Kitab Roma (1 : 26-27) Paulus juga dengan tegas menyatakan bahwa Allah membenci penyimpangan seksual.

Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit,pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan peniputidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. 1 Korintus 6 : 9-10

Dalam kitab perjanjian lama kita pun dalam melihat bahwa Allah telah menyatakan bahwa LGBTQ bukanlah kenormalan. Dalam kitab Imamat 18 : 22, LGBTQ dinyatakan sebagai kekejian di mata Tuhan.

Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian. Imamat 18 : 22

Jangankan LGBTQ, Kekristenan bahkan menempatkan tempat yang paling eksklusif bagi seksual yaitu dalam kekudusan pernikahan. Diluar pernikahan kudus antara laki-laki dan perempuan, orientasi seksual menjadi dosa. Bahkan fantasi seksual diluar hubungan suami istri dinyatakan sebagai dosa yang harus ditinggalkan. Pernyataan tersebut bahkan dinyatakan langsung oleh Tuhan Yesus dalam kotbahNya diatas bukit.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Matius 5 : 28

Dalam Kekristenan inti iman Kristen adalah pertobatan, pemulihan, dan pembaharuan di dalam Kristus. Dosa dinyatakan bukan untuk mendiskriminasikan seseorang atau kaum tertentu. Dosa dinyatakan untuk dipulihkan dan diperbaharui oleh kasih karunia Allah yang diberikan di dalam Kristus Yesus.

Jika memang kaum LGBTQ sulit menerima pokok kebenaran Kristen, seharusnya tidak perlu mengatakan bahwa Gereja melakukan diskriminasi terhadap kaum LGBTQ. Jika memang tidak dapat menerima pokok ajaran Kristen, kaum LGBTQ bisa memilih agama yang menganggap LGBTQ bukanlah sebuah dosa.

Diluar pokok ajaran iman Kristen, pandangan tentang LGBTQ adalah sesuatu yang normal harus dihargai, seperti halnya pandangan-pandangan yang tidak mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Yang selama menjadi persoalan dan yang menyakiti hati orang Kristen adalah tekanan dari kaum LGBTQ untuk menyatakan bahwa LGBTQ bukanlah dosa.

 

penulis : GIlrandi ADP

Comments

https://i2.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2020/08/pexels-sharon-mccutcheon-1566842.jpg?fit=600%2C338&ssl=1https://i2.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2020/08/pexels-sharon-mccutcheon-1566842.jpg?resize=600%2C338&ssl=1Gilrandi ADPPoleksosbudiman kristen,LGBTQBeritaMujizat.com - Poleksosbud - Para pendukung LBGTQ (Lesbian, Biseksual, Gay, Transgender, Queer) yang ngotot bahwa LGBTQ bukan dosa sebaiknya jangan memaksakan diri untuk menjadi orang Kristen. Apalagi sampai berusaha memaksakan Gereja untuk mengakui bahwa LGBTQ adalah kenormalan yang harus didukung. Hal ini bukan berarti Kekristenan menutup diri atau bahkan mendiskriminasikan...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan