Tuhan itu Maha Kudus,  Sempurna, Tak Bercacat, Murni, dan Tak Terjangkau. Semua agama percaya, terutama monoteisme percaya hal itu. Dengan posisiNya yang tak terjangkau, sementara kita manusia yang maha rusak, bejat, dan sudah ternoda dengan apa yang disebut DOSA, membuat hubungan antara Tuhan dengan kita terasa sangat jauh.

Begitu sulitnya untuk selalu melakukan yang benar dihadapanNya, sehingga seringkali membuat frustasi dan akhirnya kita berhenti untuk berusaha melakukan yang benar. Seorang sekaliber Paulus pun dalam kitab Roma mengatakan:

Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. (Rom 7:15).

Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini (Rom 7:22-24).

Realitas kuatnya hawa nafsu manusia memperlihatkan bahwa aturan agama dalam bentuk hukum-hukum yang paling mulia pun tidak mampu untuk mematikan efek dari kejatuhan manusia itu.

Kemustahilan manusia untuk “selalu benar” ini diselesaikan Tuhan yang disalibkan. Melalui korbanNya di kayu Salib, semua selesai dan tidak ada lagi penghukuman.

Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. (Rom 8:1-2).

Inilah kekuatan kasih karunia yang menjadi sumber kehidupan para pencari Tuhan yang percaya Yesus Kristus. Pertempuran yang sebenarnya “sudah terjadi” di kayu Salib. Dan pertempuran orang percaya sekarang adalah antara percaya atau tidak.

Dengan percaya bahwa posisi legal kita adalah orang merdeka, “seharusnya” melawan dosa kita tidak bisa dikalahkan. Kekalahan-kekalahan kita dalam kehidupan karena kita terjebak dalam “kebohongan” si jahat. Sehingga akhirnya kita percaya kita tidak mampu, dan pikiran, perasaan, dan kehendak yang menguasai kita, bukan Roh Kudus lagi.

Sebab itu perlu kita selalu “kembali percaya” dan menggunakan kemerdekaan yang sudah diberikan untuk selalu tetap berkemenangan bersama dengan Tuhan. Daud pernah kalah, dan dia kembali lagi. Petrus pernah kalah, dan dia kembali lagi. Elia pun pernah kalah, dan dia kembali lagi. Itulah kasih karunia, selalu memberikan kita kesempatan untuk kembali. Hanny Setiawan

Daily Seeking God
– 10 Tahun Perenungan Mencari Tuhan –
Daily Seeking God adalah kumpulan tulisan Hanny Setiawan selama 10 tahun.  Ditulis secara spontan ketika ada pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri.  Dengan mengikuti “renungan harian” ini diharapan bisa mengerti pergumulan batin selama 2009-2019 penulis.

 

Comments

https://i1.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2020/03/Daily-Seeking-God.png?fit=1000%2C563&ssl=1https://i1.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2020/03/Daily-Seeking-God.png?resize=1000%2C563&ssl=1adminDaily Seeking GodRenungan HarianTuhan itu Maha Kudus,  Sempurna, Tak Bercacat, Murni, dan Tak Terjangkau. Semua agama percaya, terutama monoteisme percaya hal itu. Dengan posisiNya yang tak terjangkau, sementara kita manusia yang maha rusak, bejat, dan sudah ternoda dengan apa yang disebut DOSA, membuat hubungan antara Tuhan dengan kita terasa sangat jauh. Begitu sulitnya...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan