Internasional
Trending

Demoralisasi Menjadi Penyebab Terguncangnya Amerika Hari ini


BeritaMujizat.com – Poleksosbud – Terguncangnya Amerika saat ini ternyata telah diprediksi jauh-jauh hari oleh banyak pihak. Salah satu tokoh yang pernah menyampaikan peringatan keras akan kondisi yang akan dialami Amerika saat ini adalah Berzenov.

Yuri Alexandrovich Berzenov adalah mantan agen rahasia Rusia KGB yang membelot pada Kanada pada tahun 1970. Pada tahun 1984 Berzenov menyampaikan prediksi tentang kondisi yang akan dialami Amerika akibat demoralisasi dan perang psikologi.

Demoralisasi merupakan proses mengubah pandangan atau ideologi masyarakat Amerika terhadap negaranya. Demoralisasi ini terjadi dalam proses jangka panjang dan bekerja melalui melalui media, budaya, dan pendidikan yang dapat disusupi.

Menurut Berzenov, proses demoralisasi ini berlangsung dalam empat tahapan proses, dan setiap proses mempunyai periode yang berbeda.  Tahap pertama disebut “demoralisasi” yang membutuhkan waktu 15 hingga 20 tahun untuk mencapainya.

Tahap kedua adalah “destabilisasi” berlangusung dalam kurun waktu dua sampai lima tahun. Tahap ini memfokuskan untuk melemahkan titik-titik penting sebuah negara seperti ekonomi, hubungan luar negeri, sistem pertahanan, dll.

Tahap yang ketiga adala “krisis”, tahap ini berlangsung sangat cepat, hanya membutuhkan waktu enam minggu. Tahap ini menargetkan perubahan kekuasaan dan struktur ekonomi pada suatu negara.

Tahap yang keempat adalah “normalisasi”, tahap ini merupakan perwujudan dari sebuah negara dikuasai oleh ideologi dan realitas yang baru. Proses ini menunjukan bahwa negara telah diambil alih sepenuhnya.

Jika menurut pada proses demoralisasi yang disampaikan Berzenov, Amerika dapat  saat ini dapat dikatakan memasuki tahap “normalisasi”.  Salah satu tanda yang mencolok masuknya Amerika sedang masuk dalam tahap “normalisasi” adalah upaya mendiskreditan nasionalisme Kristen, setelah kekalahan Trump.

Kelompok yang mendukung nasionalisme Kristen dianggap sebagai perusuh yang mengancam perdamaian Amerika. Kerusuhan yang terjadi pasca Trump dinyatakan kalah menjadi pembenaran untuk menyerang nasionalisme Kristen.

Bahkan muncul wacana mengerikan bahwa anak-anak pendukung Trump yang di dalamnya Gereja yang mendukung nasionalisme Kristen, akan ditangkap dan dimasukan dalam sebuah camp konsentrasi. Anak-anak ini kabarnya akan di “cuci otak” untuk melepaskan dari ideologi nasionalisme yang dianggap berbahaya.

Ikut bermainnya media dan perusahaan Big data dalam membombardir Trump dan kelompok pendukungnya juga menunjukan proses “normalisasi” sedang berlangsung di Amerika. Twitter, FB, Youtube, dan media-media populer lainnya bahkan telah memblokir Trump dan pendukungnya, termasuk Gereja, setelah kerusuhan pasca keputusan 6 Januari lalu.

Media-media alternatif yang akan dicurigai akan digunakan Trump dan pendukungnya pun juga mendapat serangan. Beberapa saat setelah terjadi pemblokiran, media-media alternatif seperti Parler telah dilaporkan down.

Proses subversi ideologi melalui demoralisasi inilah yang menjadi keresahan dan menggerakkan Gereja di Amerika turun ke jalan, dalam proses politik kali ini. Keresahan terhadap proses demoralisasi ini juga membuat Gereja memberikan dukungan penuh terhadap Trump sejak awal.

Trump dianggap memilki komitmen yang kuat untuk memerangi demoralisasi dan membangkitkan kembali rasa nasionalisme. Trump juga mendukung gerakan pro life yang menentang legalisasi aborsi dan propaganda LGBTIQ.

Secara lebih luas Gereja melihat demoralisasi ini merupakan bentuk peperangan rohani yang mengancam generasi. Peperangan ini tidak hanya berusaha menjatuhakan Amerika melainkan Tuhan dan kebenaran firmanNya atas Amerika.

Apa yang tejadi di Amerika saat ini juga sangat mungkin terjadi di Indonesia dalam waktu dekat. Tanda-tanda demoralisasi sesungguhnya sudah muncul cukup lama di Indonesia.

Gejolak politik yang sedang terjadi menunjukan Indonesia telah memasuki tahap dua dan segera memasuki tahap yang ketiga. Pemilu 2024 sangat mungkin berpontensi membawa Indonesia memasuki tahap yang ketiga dan keempat.

Belajar dari Amerika, Gereja Tuhan sebaiknya tidak lengah dan merasa aman dengan situasi yang terjadi saat ini. Gereja harus mempersiapkan diri untuk menghadapi peperangan rohani global yang sedang terjadi saat ini. Gereja juga harus bersiap menghadapi perpecahan Gereja dalam peperangan rohani yang terjadi saat ini, seperti yang terjadi di Amerika saat ini.

 

penulis ; Gilrandi ADP

Comments

Back to top button