Internasional

Belanda Minta Maaf Lagi ke Indonesia, Mark Rutte: Maaf yang Mendalam


Perdana Menteri Belanda Mark Rutte. (Sumber: RTL Boulevard)

BeritaMujizat.com – Internasional – Perdana Menteri Belanda Mark Rutte meminta maaf ke Indonesia. Permintaan maaf itu disampaikan setelah ada penelitian yang menunjukkan tentara Belanda melakukan kekerasan ekstrem terhadap rakyat Indonesia dalam perang 1945-1950.

Seperti dimuat di voaindonesia.com, sebelumnya, Raja Belanda Willem Alexander yang didampingi oleh Ratu Maxima juga telah menyampaikan permintaan maaf kepada Indonesia atas penjajahan dan kekerasan yang terjadi pada masa lalu, saat berkunjung ke Indonesia Maret 2020 lalu.

Perdana Menteri Mark Rutte dalam keterangan resminya di situs resmi Pemerintahan Nasional Belanda (De Rijksoverheid. Voor Nederland), Kamis (17/2/2022) menyampaikan, hasil penelitian yang baru dikeluarkan itu, mendorong dirinya untuk mengulang lagi permohonan maaf kepada Indonesia.

“Di sini dan saat ini, atas kekerasan ekstrem yang sistematis dan meluas yang dilakukan Belanda pada tahun-tahun itu, dan pandangan yang konsisten oleh kabinet-kabinet sebelumnya, saya menyampaikan permintaan maaf yang mendalam atas nama pemerintah Belanda kepada rakyat Indonesia hari ini,” ucap Mark.

Mark menyebut, 1945-1950 adalah ‘lembaran hitam’ dalam sejarah negaranya. Ia juga menyebutnya ‘babak menyakitkan dalam sejarah’.

Mark juga menyampaikan tanggapannya terhadap penelitian itu melalui Twitternya @MinPres. Ini merupakan reaksi pertama dari Mark atas nama kabinet setelah presentasi penelitian sejarah senilai 4,1 juta Euro itu.

Penelitian tersebut berjudul ‘Dekolonisasi, Kekerasan dan Perang di Indonesia, 1945-1950’. Riset itu melibatkan 25 akademisi Belanda, 11 peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dan 6 pakar internasional.

Ada tiga lembaga Belanda yang menyelenggarakan riset ini, yakni Lembaga Ilmu Bahasa, Negara, dan Antropologi Kerajaan Belanda (KITLV); Lembaga Belanda untuk Penelitian Perang, Holocaust, dan Genosida (NIOD); serta Lembaga Penelitian Belanda untuk Sejarah Militer (NIMH).

Mereka menyatakan bekerja sama dengan pihak peneliti Indonesia, tapi bukan bekerja sama dengan pemerintah Indonesia.

“Dalam respon pertama pemerintah kepada parlemen hari ini, pemerintah akan bertanggung jawab penuh terhadap kesalahan kolektif mereka (pemerintah Belanda di masa 1945-1950), pemerintahan yang menjadi basis kekerasan ekstrem dalam periode yang disebutkan itu,” kata Mark.

Lanjut Mark, hasil penelitian itu seperti sejarah menyakitkan yang tiba-tiba datang lagi. Namun Rutte mengatakan, Pemerintah Belanda harus menghadapi fakta-fakta memalukan itu.

Dia mengungkapkan, Pemerintah Belanda saat ini berbeda dengan era Perdana Menteri Piet De Jong pada 1969. De Jong saat itu menyatakan tentara Belanda melakukan tindakan yang benar di Indonesia.

“Pada tahun 1945-1949, Belanda menjalankan perang kolonial di Indonesia, sebagaimana peneliti katakan, ada ‘penggunaan kekerasan ekstrem yang sistematis dan meluas’, hingga penyiksaan. Kekerasan ekstrem yang dalam kebanyakan kasus tidak diganjar hukuman,” kata Rutte.

Permintaan maaf PM Mark kali ini adalah pengakuan pertama Belanda, bahwa ada kekerasan brutal yang disengaja secara efektif selama perang.

Comments

Related Articles

Back to top button