Teologi Sejati: Berpusat pada Kristus, Terbuka pada Titik Temu

BeritaMujizat.com – Teologi – Teologi sejati selalu berpusat pada Kristus sebagai wahyu Allah yang sempurna dan tujuan seluruh ciptaan. Namun justru karena Kristus adalah pusat segala sesuatu, teologi Kristen tidak dipanggil hidup dalam isolasi.
Ia dipanggil mengenali jejak karya Roh Kudus di berbagai tradisi gereja. Titik temu bukan ancaman bagi iman, tetapi kesempatan untuk melihat bagaimana Kristus bekerja melampaui batas-batas denominasi.
Gerakan Pentakosta memberi contoh penting. Sebelum Roh Kudus dicurahkan, jemaat mula-mula dalam Kisah Para Rasul pasal 1 digambarkan sehati dalam doa. Kata Yunani yang dipakai adalah ὁμοθυμαδόν (homothymadon), gabungan dari homo (“sama, satu”) dan thymos (“hati, gairah, dorongan batin”). Artinya bukan sekadar berkumpul di ruangan yang sama, tetapi memiliki hati yang satu, arah yang satu, dan kerinduan yang satu.
Di sinilah letak inti Pentakosta Perjanjian Baru: Roh Kudus turun bukan pertama-tama atas keramaian, tetapi atas komunitas yang homothymadon—sehati. Sebelum ada bahasa lidah, lebih dulu ada bahasa hati. Sebelum ada manifestasi kuasa, lebih dulu ada kesatuan jiwa.
Hal ini menjadi lawan langsung dari tragedi Kitab Kejadian 11. Nama Babel berasal dari kata Ibrani בָּבֶל (Bāvel), yang secara naratif dikaitkan dengan kata בָּלַל (balal), berarti “mengacaukan, mencampuradukkan, membuat bingung.” Babel melambangkan confusion: satu bahasa tetapi hati terpecah oleh kesombongan. Mereka tampak bersatu secara lahiriah, tetapi batinnya memberontak terhadap Allah.
Pentakosta adalah kebalikan Babel. Jika Babel adalah satu bahasa dengan hati yang salah, maka Pentakosta adalah banyak bahasa dengan hati yang satu. Jika Babel menghasilkan balal—kekacauan dan perpecahan—maka Pentakosta lahir dari homothymadon—sehati dan kesatuan rohani. Di Babel, manusia naik membangun menara menuju langit. Di Pentakosta, Roh Kudus turun membangun umat menjadi bait Allah.
Gerakan Pentakosta modern awal di Azusa Street Mission mencerminkan pola ini ketika berbagai ras dan kelas sosial berdoa bersama. Roh Kudus meruntuhkan tembok yang dibangun sejarah manusia.
Dalam perkembangan global, Pentakosta mulai menemukan kembali kekayaan tradisi lain. Dari Eastern Orthodox Church, Pentakosta belajar kedalaman spiritualitas. Dari Catholic Church, Pentakosta belajar visi kesatuan gereja universal. Dari tradisi Injili dan Reformed tradition, Pentakosta diingatkan pada otoritas Kitab Suci dan keteguhan doktrin.
Semua ini menunjukkan bahwa Pentakosta sejati bukan gerakan kebisingan rohani, melainkan gerakan pemulihan kesatuan di bawah Kristus. Teologi sejati tidak membangun menara Babel baru berupa sekat denominasi dan kesombongan tradisi. Teologi sejati berpusat pada Kristus dan terbuka pada titik temu yang dikerjakan Roh Kudus.
Jika Babel menghasilkan balal, maka Pentakosta menghasilkan homothymadon: banyak suara menjadi satu kesaksian bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan.
Hanny Setiawan



