Menang di Hadapan Allah, Bukan di Hadapan Keadaan

BeritaMujizat.com – Renungan – Malam itu Yakub tidak sedang mencari Tuhan; ia sedang dikejar oleh masa lalunya. Di tepi Sungai Yabok, Yakub sendirian, gelisah, dan dipenuhi ketakutan saat harus menghadapi Esau (Kej. 32:22–24).
Namun justru di titik paling gelap itulah Tuhan datang dan bergulat dengannya. Ini bukan pertarungan fisik, melainkan perjumpaan ilahi—sebuah konfrontasi antara siapa Yakub selama ini dan siapa ia akan menjadi.
Yakub bergumul sampai fajar menyingsing. Bukan karena ia kuat, tetapi karena ia menolak melepaskan Tuhan. Di situlah kemenangan Yakub dimulai: bukan saat Tuhan datang, melainkan saat Yakub memilih untuk bertahan. Ia “menang” bukan karena mengalahkan Tuhan, tetapi karena ia tidak menyerah.
Ketika sendi pangkal pahanya dipukul hingga ia pincang (Kej. 32:25), secara jasmani Yakub kalah total. Semua keunggulannya runtuh. Namun justru dari kelemahan itulah keluar seruan iman yang paling jujur:
“Aku tidak akan melepaskan Engkau, jika Engkau tidak memberkati aku” (Kej. 32:26).
Itu adalah doa seseorang yang sudah kehabisan cara, tetapi belum kehabisan iman. Yakub tidak lagi mengandalkan kecerdikan, strategi, atau kelicikannya. Ia hanya berpegang pada Tuhan—dan Tuhan tidak pernah menolak orang yang berpegang seperti itu.
Sering kali dalam pergumulan, kita ingin menang dengan cara kita sendiri: keadaan cepat berubah, tekanan berhenti, masalah selesai. Padahal dalam setiap proses, fokus Tuhan sering kali bukan langsung mengubah situasi, melainkan mengubah kita terlebih dahulu. Roma 8:28 mengingatkan bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia—bukan selalu kenyamanan, tetapi keserupaan dengan kehendak-Nya.
Yakub keluar dari perjumpaan itu dalam keadaan pincang, tetapi hatinya tidak lagi sama. Ia tidak lari lagi. Ia tidak bersembunyi. Ia siap menghadapi Esau. Inilah kemenangan yang sesungguhnya.
Puncaknya bukan pada fajar pagi, melainkan pada perubahan identitas:
“Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel” (Kej. 32:28).
Dari penipu menjadi pemenang bersama Allah. Dari masa lalu yang gelap menuju masa depan yang ditetapkan Tuhan. Dari ketakutan menuju keberanian untuk maju. Hosea 12:4 menegaskan,
“Ia bergumul dengan Allah dan menang; ia menangis dan memohon belas kasihan-Nya.”
Menang di mata Tuhan bukan soal siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang tidak melepaskan Tuhan sampai terang datang. Dan mungkin hari ini, kemenanganmu bukan terletak pada situasi yang berubah, melainkan pada identitas yang sedang dibentuk Tuhan di dalam dirimu.
Penulis : Pdt. Henry Setiawan



