El-BethelRenunganSpiritualitas

Diremukkan Namun Harum: Kesetiaan Jemaat Smirna di Tengah Tekanan


BeritaMujizat.com – Renungan – Jemaat di Smirna hidup dalam tekanan yang nyata dan menyakitkan. Mereka bukan miskin karena malas, bukan karena tidak bijak mengelola hidup, dan bukan pula karena kurang iman atau tidak diberkati Tuhan. Kemiskinan mereka lahir dari sebuah sistem yang secara sengaja menekan dan menyingkirkan orang percaya.

Alkitab menggunakan kata ptōchos, sebuah istilah yang tidak sekadar berarti kekurangan, tetapi menggambarkan orang yang dilucuti secara total—dimiskinkan secara paksa, kehilangan daya tawar, dan tidak memiliki ruang untuk bertahan hidup secara normal. Karena iman mereka kepada Kristus, akses ekonomi tertutup, jaringan sosial terputus, dan perlindungan hukum menghilang.

Mereka harus membayar harga yang nyata karena memilih setia. Namun justru kepada jemaat seperti inilah Yesus berkata, “Engkau miskin, namun engkau kaya.” Surga menyebut kaya apa yang dunia anggap gagal, dan Tuhan menghitung sebagai harta apa yang sistem dunia buang.

Nama Smirna sendiri berasal dari kata mur (myrrh), yaitu getah harum yang pada dasarnya pahit dan hanya mengeluarkan aroma ketika diremukkan. Ini bukan sekadar kebetulan, melainkan gambaran profetik atas kehidupan jemaat tersebut. Smirna diremukkan oleh tekanan, fitnah, pengucilan, dan ketidakadilan, namun justru dari proses itulah muncul keharuman kesetiaan yang menyenangkan hati Tuhan.

Mereka tidak menjadi harum karena kenyamanan, fasilitas, atau perlindungan, melainkan karena ketaatan di tengah penderitaan. Hidup mereka menjadi persembahan yang hidup—tidak berisik, tidak menuntut simpati, dan tidak membela diri—namun aromanya naik ke hadapan Allah. Seperti mur yang dipakai dalam penguburan dan penyembahan, kehidupan mereka berbicara lebih keras melalui kesetiaan daripada melalui kata-kata.

Dari tujuh jemaat yang disebut dalam Kitab Wahyu, Smirna adalah satu-satunya jemaat yang tidak menerima teguran dari Tuhan. Tidak ada cela yang disorot, tidak ada koreksi keras, dan tidak ada panggilan pertobatan.

Yang ada hanyalah penguatan, penghiburan, dan janji mahkota kehidupan. Hal ini menegaskan bahwa penderitaan mereka bukan buah dari kompromi atau dosa tersembunyi, melainkan bagian dari kesetiaan yang Tuhan kenal sepenuhnya.

Yesus tidak berkata, “Perbaiki ini dan itu,” tetapi berkata, “Jangan takut… hendaklah engkau setia sampai mati.” Kalimat ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak sedang memperbaiki mereka, melainkan mempercayai mereka. Smirna bukan gereja yang perlu ditegur, melainkan gereja yang sedang dipersiapkan untuk kemuliaan.

Kisah Smirna berbicara sangat kuat bagi kita hari ini. Tidak semua tekanan berarti kita berada di jalan yang salah, dan tidak semua kehilangan berarti Tuhan meninggalkan kita. Ada musim di mana kesetiaan justru membawa risiko, dan iman harus dibayar dengan harga yang mahal. Ada saat-saat ketika taat kepada Tuhan membuat kita kehilangan kenyamanan, posisi, dan penerimaan sosial.

Namun, Smirna mengajarkan bahwa Tuhan lebih menghargai hati yang setia daripada hidup yang aman. Lebih baik diremukkan namun harum di hadapan Tuhan, daripada nyaman di mata dunia tetapi kehilangan mahkota kehidupan. Smirna mengingatkan kita bahwa ukuran keberhasilan dalam Kerajaan Allah bukanlah kelapangan hidup, melainkan kesetiaan sampai akhir.

Penulis : Pdt. benyamin Henry Setiawan

Comments

Related Articles

Back to top button