RenunganRenungan HarianSpiritualitas

Menyuarakan Kebenaran di Tiatira: Antara Kasih dan Keberanian


BeritaMujizat.com – Renungan – Salah satu luka terdalam jemaat Tiatira adalah ketakutan terhadap konflik rohani. Gereja ini sebenarnya tidak menolak kebenaran, tetapi menunda konfrontasi. Mereka menyadari ada yang keliru, namun memilih diam demi stabilitas, relasi, dan rasa aman. Padahal sejak semula, kebenaran tidak pernah bersifat netral.

Setiap kali kebenaran diberitakan, ia selalu memaksa pilihan: terang atau gelap, ketaatan atau kompromi, hitam atau putih. Tidak ada zona abu-abu dalam Kerajaan Allah. Ketika gereja berusaha menghindari konflik, sesungguhnya gereja sedang menunda keputusan—dan penundaan itu sendiri sudah merupakan sebuah keberpihakan.

Yesus tidak pernah mengajarkan damai yang menghindari ketegangan. Ia justru berkata bahwa kedatangan-Nya akan membawa pemisahan (lih. Mat. 10:34–36). Bukan karena Tuhan menyukai konflik, melainkan karena kebenaran secara alami menyingkap apa yang bertentangan dengannya.

Gereja yang takut konflik sering menyebut dirinya “penuh kasih”, padahal yang terjadi adalah kasih yang telah kehilangan keberanian. Mereka lebih takut kehilangan manusia daripada kehilangan perkenanan Tuhan. Di titik inilah Tiatira gagal—bukan karena mereka secara aktif mengikuti ajaran Izebel, melainkan karena mereka memberinya ruang melalui diam yang berkepanjangan.

Konflik rohani bukan tanda kegagalan pelayanan, melainkan bukti bahwa kebenaran sedang bekerja. Setiap kebangunan sejati selalu diawali oleh ketegangan: sistem lama terguncang, kenyamanan terganggu, dan kompromi disingkapkan. Gereja yang menghindari konflik akan memilih jalan aman—menjaga semua pihak tetap nyaman—namun tanpa sadar membiarkan racun menyebar perlahan.

Dosa yang tidak ditegur tidak akan berhenti. Ia akan menuntut legitimasi, lalu memengaruhi struktur, arah, dan budaya gereja. Karena itu Yesus menyatakan diri-Nya kepada Tiatira dengan mata bagaikan nyala api, berbicara tentang kebenaran yang tidak bisa dinegosiasikan, dan kaki seperti tembaga berkilau, berbicara tentang keputusan yang kokoh dan tidak goyah (Why. 2:18).

Tuhan memang memberi waktu untuk bertobat, tetapi ketika gereja menolak untuk memilih, Tuhan sendiri yang akan memilihkan. Inilah peringatan keras bagi gereja yang takut konflik: jika gereja tidak berani menegur dosa di dalamnya, Tuhan sendiri yang akan datang dengan penghakiman-Nya.

Namun di tengah ketegangan itu, Tuhan tetap memanggil sisa umat yang berani berdiri. “Peganglah apa yang ada padamu sampai Aku datang” (Why. 2:25) adalah seruan bagi generasi yang menolak netralitas. Mereka yang menang dijanjikan otoritas dan Bintang Timur—terang yang bercahaya di tengah zaman yang gelap.

Tiatira mengajarkan kepada kita bahwa gereja tidak dipanggil untuk menjadi tempat yang paling nyaman, melainkan tempat yang paling jujur di hadapan Tuhan. Sebab hanya gereja yang berani menghadapi konflik demi kebenaran dan kasih yang sejati, yang layak dipercaya untuk membawa kemuliaan-Nya.

Penulis: Pdt. Benyamin Henry Setiawan

Comments

Related Articles

Back to top button