Gema dari Tanah Dayak: Seruan Profetik yang Mempersatukan Generasi

BeritaMujizat.com – Berita Gereja – Pada hari kedua rangkaian acara Wind and Fire di Palangka Raya, suasana berubah menjadi sangat mendalam ketika sebuah momen profetik terjadi—sebuah teriakan yang bukan sekadar suara, melainkan seruan rohani yang menggugah dan mempersatukan.
Momen itu dipimpin oleh perwakilan suku Dayak, yang dengan penuh keberanian mengangkat sebuah teriakan khas suku mereka. Teriakan tersebut bukan hanya ekspresi budaya, tetapi menjadi deklarasi iman yang mengundang setiap suku dan wilayah untuk bangkit bersama. Dalam sekejap, suara itu menggema memenuhi ruangan, membawa atmosfer yang kuat akan hadirat Tuhan.

Singa telah mengaum, siapakah yang tidak takut? Tuhan Allah telah berfirman, siapakah yang tidak bernubuat?” Amos 3:8
Seluruh peserta merespons dengan sorak yang menggelegar. Bukan sekadar antusiasme, tetapi sebuah tanda kesediaan hati untuk masuk dalam perjanjian (covenant) rohani—untuk berdiri sebagai satu tubuh Kristus, melampaui latar belakang, perbedaan, dan identitas suku.
Seruan itu menjadi lebih dari sekadar ajakan. Ia adalah panggilan ilahi untuk melahirkan identitas yang baru—sebuah generasi Dayak yang diperbarui, yang hidup untuk memuliakan nama Tuhan. Dalam momen tersebut, terasa jelas bahwa Tuhan sedang membentuk sesuatu yang baru di tanah Kalimantan.
Deklarasi persatuan ini menjadi titik awal dari sebuah pergerakan rohani. Sebuah generasi dipersatukan bukan karena kesamaan budaya semata, tetapi karena kasih Kristus dan tujuan ilahi yang sama. Dalam kesatuan itu, mereka berkomitmen untuk berjalan bersama, membangun, dan menjadi alat Tuhan bagi kebangunan rohani di daerah masing-masing.
Malam itu menjadi saksi bahwa ketika suara persatuan dinaikkan, Tuhan sedang menenun sebuah karya besar. Dari Palangka Raya, gema itu tidak berhenti—ia akan terus menjangkau daerah demi daerah, membawa api kebangunan, dan mempersiapkan jalan bagi pekerjaan Tuhan yang lebih besar di masa depan.
Apa yang dimulai sebagai sebuah teriakan, kini menjadi sebuah gerakan.



