Efesus: Berakar dalam Kebenaran, Kering dalam Kasih

BeritaMujizat.com – Renungan – Jemaat Efesus bukan gereja yang malas atau sesat. Mereka aktif, militan dalam kebenaran, dan berani menolak ajaran yang salah. Yesus sendiri mengakui, “Aku tahu segala pekerjaanmu: jerih payahmu dan ketekunanmu” (Wahyu 2:2).
Mereka kuat secara doktrin, disiplin dalam pelayanan, dan tegas terhadap pengajaran yang menyimpang. Namun justru kepada gereja yang terlihat paling “benar” ini Yesus berkata dengan tegas, “Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula” (Wahyu 2:4).
Ini peringatan keras: seseorang bisa benar secara teologi, tetapi salah secara relasi. Kita bisa sibuk bekerja bagi Tuhan, namun hati kita perlahan menjauh dari Tuhan.
Kasih mula-mula bukan nostalgia rohani, melainkan fondasi kehidupan rohani. Itu adalah hati yang mudah tersentuh oleh hadirat Tuhan, haus akan firman, dan menikmati persekutuan dengan-Nya. Jemaat Efesus tidak kehilangan iman, mereka kehilangan kepekaan.
Pelayanan menggantikan persekutuan, rutinitas menggantikan kerinduan. Paulus pernah menasihati mereka agar “berakar dan berdasar di dalam kasih” (Efesus 3:17), namun seiring waktu, akar itu mengering. Mereka tidak berhenti melayani, tetapi berhenti mengasihi dengan hati yang menyala.
Efesus sendiri adalah kota yang sarat tekanan rohani. Kota ini pusat penyembahan dewi Artemis (Diana), salah satu dewi terbesar dunia kuno. Kisah Para Rasul 19 mencatat bagaimana penyembahan Artemis begitu menguasai budaya, ekonomi, dan identitas kota itu.
Patung Artemis disembah, kuilnya menjadi kebanggaan dunia, dan siapa pun yang mengganggu sistem ini dianggap ancaman. Jemaat Efesus hidup di tengah peperangan rohani yang intens, mereka berani menolak berhala, menentang sihir, dan berdiri melawan arus. Namun justru di tengah perjuangan melawan kegelapan eksternal, api kasih internal mereka perlahan padam. Mereka menang melawan berhala di luar, tetapi lengah menjaga mezbah kasih di dalam.
Yesus tidak menawar-nawar keadaan ini. Ia berkata, “Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan” (Wahyu 2:5). Jika tidak, kaki dian akan diambil. Artinya, aktivitas rohani tanpa kasih tidak lagi memancarkan terang.
Gereja bisa tetap berjalan, ibadah bisa tetap ramai, pelayanan bisa tetap sibuk , tetapi kehadiran Tuhan tidak lagi tinggal. Tuhan tidak terkesan dengan kesibukan rohani yang tidak lahir dari cinta, sebab “jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna” (1 Korintus 13:2).
Renungan ini menelanjangi hati kita hari ini. Apakah doa kita masih lahir dari rindu, atau hanya kewajiban? Apakah pelayanan kita masih respons kasih, atau sekadar tanggung jawab? Yesus tidak mencari gereja yang hanya benar dan sibuk, tetapi gereja yang mengasihi Dia terlebih dahulu (Matius 22:37).
Tanpa kasih mula-mula, semua yang tampak hidup sebenarnya sedang menuju kematian rohani. Tuhan rindu api yang sama , kasih yang menyala, hati yang lembut, dan relasi yang hidup , itulah terang sejati yang tidak bisa dipadamkan oleh dunia mana pun.
Penulis : Pdt. Benyamin Henry Setiawan



