Berita Gereja

Dikenal oleh Tuhan: Panggilan yang Melampaui Pelayanan


BeritaMujizat.com – Renungan – Di dalam Kitab Yeremia 1:5 Tuhan berkata, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau.” Ayat ini menyatakan satu kebenaran yang dalam: Tuhan mengenal kita lebih dahulu. Ia mengenal nama kita, potensi kita, bahkan kegagalan kita sebelum semuanya terjadi.

Namun, ketika kita membaca Matius 7:23, Yesus berkata, “Aku tidak pernah mengenal kamu.” Di sini kita harus memahami sesuatu yang penting: yang dipersoalkan bukan apakah Tuhan tahu tentang kita, tetapi apakah ada relasi yang sejati antara kita dengan Dia.

Dalam Alkitab, “mengenal” bukan sekadar informasi, melainkan keintiman. Dalam konteks bahasa Ibrani dan Yunani, kata “mengenal” menunjuk pada hubungan yang dalam, pribadi, dan hidup. Tuhan mengenal Yeremia bukan hanya sebagai individu bernama Yeremia, tetapi sebagai pribadi yang dipanggil, dipisahkan, dan berjalan dalam rencana-Nya.

Sebaliknya, dalam Matius 7, orang-orang itu aktif secara rohani. Mereka bernubuat, mengusir setan, dan melakukan banyak mujizat. Namun, mereka tidak hidup dalam persekutuan yang intim dengan Tuhan. Mereka bergerak dalam aktivitas, tetapi tidak tinggal dalam hubungan.

Di sinilah letak tragedi terbesar dalam kekristenan: melayani tanpa mengenal, berbicara tentang Tuhan tanpa berjalan bersama Tuhan. Seseorang bisa fasih berkhotbah, memimpin doa, bahkan dipakai secara karismatik, tetapi hatinya jauh dari Tuhan.

Tuhan tidak mencari performa; Ia mencari kedekatan. Ia tidak terkesan pada karunia jika tidak disertai karakter dan ketaatan. Pengenalan akan Tuhan bukan diukur dari seberapa banyak kita melakukan sesuatu bagi-Nya, tetapi dari seberapa dalam kita hidup bersama-Nya.

Pengenalan yang sejati selalu menghasilkan keselarasan. Orang yang sungguh mengenal Tuhan akan semakin serupa dengan hati-Nya—mencintai apa yang Ia cintai, dan membenci apa yang Ia benci. Pengenalan itu membentuk arah hidup, mengubah ambisi, menguduskan motivasi, dan menata ulang prioritas.

Tanpa pengenalan, pelayanan bisa menjadi panggung. Tetapi dengan pengenalan, pelayanan menjadi persembahan.

Kita dipanggil bukan sekadar menjadi sesuatu atau seseorang. Kita dipanggil untuk mengenal. Sebab panggilan yang sejati selalu menuntun kepada pengenalan akan Pribadi yang memanggil.

Fase hidup ini bukan sekadar mencari tahu apa panggilan kita, tetapi mengenal Dia yang memanggil. Karena panggilan tanpa pengenalan akan berubah menjadi beban. Namun ketika kita mengenal Dia—dalam doa, dalam firman, dan dalam ketaatan sehari-hari—kita tidak lagi hidup untuk membuktikan sesuatu, melainkan untuk menyenangkan hati-Nya.

Dan pada akhirnya, yang kita rindukan bukan hanya berkata, “Tuhan, Tuhan,” tetapi mendengar Dia berkata:

“Aku mengenal engkau, hai hambaku yang setia.”

Comments

Related Articles

Back to top button