China Kembali Tindak Gereja Bawah Tanah, Sembilan Jemaat Ditangkap dan Satu Gereja Dikepung Ratusan Polisi

BeritaMujizat.com – Internasional – Penindasan pemerintah China terhadap gereja non-terdaftar kembali mencuat setelah sembilan jemaat Early Rain Covenant Church di Provinsi Sichuan ditangkap pada Selasa (…). Pada saat yang bersamaan, ratusan aparat keamanan juga mengepung gereja lain di Zhejiang hingga memaksa jemaat melarikan diri.
Penangkapan Pemimpin Gereja di Sichuan
Laporan dari lembaga pemantau kebebasan beragama China Aid menyebutkan bahwa sejumlah pemimpin Early Rain Covenant Church, termasuk penatua, diaken, hingga pengkhotbah, ikut ditahan. Rumah pemimpin gereja Li Yingqiang dan kantor gereja juga digeledah dalam operasi terkoordinasi.
Dari sembilan orang yang ditahan, lima dilaporkan dibebaskan pada Rabu. Namun, Yingqiang bersama empat pemimpin lainnya — Ye Fenghua, Yan Hong, Wu Wuqing, dan Zeng Qingtao — masih berada dalam tahanan polisi dan belum dapat dihubungi. Dua lainnya, Jia Xuewei dan Dai Zhichao, ditempatkan dalam tahanan rumah.
Early Rain Covenant Church berdiri pada 2008 dan kini memiliki sekitar 500 jemaat, menjadikannya salah satu gereja rumah terbesar di China. Gereja ini sebelumnya juga menjadi sasaran tindakan keras pada 2018 ketika pendirinya, Wang Yi, ditangkap bersama lebih dari 100 pendeta. Wang kemudian dijatuhi hukuman sembilan tahun penjara atas tuduhan subversi.
Dalam pesan yang dibagikan kepada ChinaAid, jemaat menyebut operasi terbaru ini sebagai tindakan terencana “yang menargetkan struktur organisasi dan anggota inti gereja.”
Ratusan Polisi Kepung Gereja di Zhejiang
Di hari yang sama, sekitar seribu mil dari Sichuan, otoritas Provinsi Zhejiang dilaporkan mulai merobohkan Yayang Christian Church di Wenzhou. Saksi mata menyebut ratusan polisi bersenjata dan pasukan khusus dikerahkan untuk mengepung bangunan gereja.
Warga Kristen yang tinggal di sekitar lokasi dipaksa menjauh, sementara masyarakat umum dilarang memotret atau merekam video. Alat berat seperti crane dan bulldozer terlihat di lokasi, menimbulkan kekhawatiran akan pembongkaran bangunan atau pelepasan simbol salib.
Presiden ChinaAid, Dr. Bob Fu, menilai bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk “intimidasi, isolasi, dan ancaman kekerasan” terhadap masyarakat Kristen. Ia menyebut mobilisasi aparat dalam skala besar terhadap tempat ibadah sebagai “penganiayaan agama yang disponsori negara.”
“Wenzhou, yang lama dijuluki ‘Yerusalemnya China’, kembali berada dalam tekanan. Tidak ada rezim yang mampu memadamkan iman dengan kekerasan,” ujar Fu.
Regulasi Ketat dan Sinasisasi Agama
Di China, terdapat dua jenis gereja utama: gereja terdaftar (Three-Self Churches) yang diakui pemerintah, dan gereja bawah tanah yang beroperasi tanpa persetujuan negara. Gereja non-terdaftar menjadi sasaran pengawasan ketat selama beberapa dekade terakhir.
Belakangan, pemerintah juga menerapkan regulasi baru terkait aktivitas keagamaan di internet. Kode Etik bagi Klerus Agama di Internet yang diterbitkan pada September mewajibkan kegiatan pengajaran agama hanya melalui platform yang berizin, sekaligus melarang pendeta “mempromosikan diri” atau menarik perhatian publik melalui konten keagamaan.
Presiden Xi Jinping beberapa kali menegaskan komitmennya melakukan penegakan hukum yang ketat serta mendorong Sinasisasi agama, yaitu integrasi ajaran agama dengan ideologi Partai Komunis China.
Seruan Internasional
Fu mendesak komunitas global untuk memberi perhatian lebih terhadap kondisi kebebasan beragama di China.
“Penangkapan ini bertujuan memutus kepemimpinan rohani dan menakut-nakuti jemaat yang lebih luas — tetapi upaya itu tidak akan berhasil,” ujarnya.
Ia memperingatkan bahwa sikap diam dunia internasional hanya akan memperburuk situasi.
“Doa harus disertai tindakan nyata. Tidak boleh ada normalisasi diplomatik tanpa penghentian penganiayaan agama serta pembebasan para tahanan hati nurani,” tegas Fu.



