13988042_595713510592819_343354778313835385_o

BeritaMujizat.com – Mandat Budaya – Pendidikan- Lugu, belum dapat mencerna informasi yang lengkap, dan belum bisa fokus, seringkali dijadikan alasan oleh kita para orang tua, kakak, maupun guru, untuk tidak begitu serius mengajarkan Tuhan pada waktu usia dini.

Isu tentang kerohanian dianggap tidak relevan dengan kebutuhan anak-anak usia dini. Selain itu, terbatasnya pengetahuan tentang Alkitab dan Teologi juga menjadikan pendidikan tentang Tuhan kurang begitu menjadi favorit untuk diajarkan pada anak-anak usia dini.

Disisi yang lain, fenomena hari memunculkan hal-hal yang mencengangkan yang telah menjangkiti anak-anak usia dini. Hilangnya sopan santun, kecanduan dengan game, bahkan seringkali menirukan tindakan ataupun perkataan yang tidak sepatutnya dilakukan oleh anak usia dini.

Selain itu, pornografi, narkoba, kekerasan baik fisik maupun seksual mengancam anak-anak ini kapan pun. Globalisasi dan tantangan perubahan jaman tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Semakin dipujanya rasionitas manusia sebagai jawaban atas kebutuhan manusia, menjadikan pendidikan tentang Tuhan semakin sulit dan kurang favorit untuk diajarkan.

Hal tersebut mengakibatkan pendidikan tentang Tuhan hanya menjadi pendidikan tambahan setelah pendidikan yang utama seperti matematika atau ilmu rasional yang lainnya.

Jika tetapi alkitab melalui Amsal 1 ayat 7 :

“Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”.

menempatkan pendidikan tentang Tuhan justru mendapat tempat yang utama diatas pendidikan apapun. Ada tiga hal yang menjadikan pendidikan tentang Tuhan menjadi pendidikan utama yang harus harus diajarkan sedini mungkin.

Ketika hal tersebut adalah Nilai, dan Janji. Nilai merupakan sesuatu yang berharga dalam kehidupan manusia. Nilai merupakan yang sesuatu yang dikejar oleh semua manusia. Nilai dapat berbentuk sebagai kebahagiaan, kedamaian, kenyamanan, dan semua yang berhubungan dengan kehidupan.

Nilai sangat berhubungan dengan Keinginan atau kerinduan yang sudah melekat sejak manusia lahir dan terus melekat hingga manusia meninggal. Nilai akan sangat mempengaruhi tebentuknya karakter diri seseorang.

Tuhan merupakan Nilai kekal dalam kehidupan manusia dimana segala kebaikan, keagungan, dan keindahan ada didalam pribadinya yang Supranatural. Mengajarkan Tuhan berarti mengajarkan sesuatu nilai yang kekal dan supranatural yang tidak dapat diraih oleh kekuatan, atau kepandaian manusia sendiri.

Hal tentu sangat mempengaruhi karakter seseorang yang menjadi salah faktor penting keberhasilan kehidupan seseorang.

Sedangkan Janji adalah sesuatu yang adalah sebuah kontrak psikologis yang menandakan transaksi antara 2 orang di mana orang pertama mengatakan pada orang kedua untuk memberikan layanan maupun pemberian yang berharga baginya.

Dalam hal ini, Tuhan sebagai pihak pertama menjanjikan sesuatu yang baik terhadap manusia yang telah disampaikan oleh orang-orang pilihan dan telah tercatat dalam kitab suci. Mengajarkan Tuhan berarti menumbuhkan harapan dan tujuan hidup pada manusia.

“Suatu saat kamu akan memimpin bangsa ini, kamu suatu saat akan membawa perubahan untuk bangsa yang sedang kacau saat ini”, adalah kata-kata dan doa yang menunjukan sebuah harapan.

Mengajarkan tentang Tuhan juga berarti mempersiapakan masa depan anak tersebut. Sejak dini mempersiapkan anak untuk menjadi bagian kehidupan yang lebih baik.

Semuanya itu akan sangat mempengaruhi dan menjadi jawaban mengapa pelajaran-pelajaran juga penting harus dikuasai oleh anak-anak.

 

Sumber Foto : Sekolah Nusantara Baru

Penulis            : Intitut Karismatik Reformasi Indonesia

 

 

 

 

 

Comments

http://i2.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2016/08/13988042_595713510592819_343354778313835385_o.jpg?fit=1524%2C1012http://i2.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2016/08/13988042_595713510592819_343354778313835385_o.jpg?resize=1000%2C1000Gilrandi ADPMandat BudayaPendidikanamsal 1 ayat 7,Janji,Nilai,Pentinya Pendidikan TuhanBeritaMujizat.com - Mandat Budaya - Pendidikan- Lugu, belum dapat mencerna informasi yang lengkap, dan belum bisa fokus, seringkali dijadikan alasan oleh kita para orang tua, kakak, maupun guru, untuk tidak begitu serius mengajarkan Tuhan pada waktu usia dini. Isu tentang kerohanian dianggap tidak relevan dengan kebutuhan anak-anak usia dini. Selain itu, terbatasnya...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan