keykingdom

BeritaMujizat.com – Mandat Budaya –  “Marketplace” menjadi buzzword dalam gereja-gereja modern. Terutama gereja-gereja yang diperkotaan dengan jemaat para pebisnis ataupun profesional dan kelas menengah yang signifikan.  Para pebisnis tersebut disinyalir merasa dijadikan “sapi perahan” oleh gereja sehingga menjadi gerah dan mulai mencari penyaluran melalui yayasan ataupun pelayanan-pelayanan pribadi.

Diluar masalah being dari pengelola gereja lokal soal keuangan, model pelayanan (ministry model) di bidang usaha haruslah terus digali dan dicarikan bentuk yang tepat sehingga antar bentuk pelayanan tidak tumpang tindih.  Artinya, bisnis yang model kerajaan itu seperti apa? Apakah para pebisnis atau bisnis dalam gereja hanyalah sebagai sumber keuangan pelayanan misi?

Ketidakjelasan dalam memodelkan pelayanan di dunia usaha membuat tempat kerja hanyalah sebagai pelarian orang-orang dalam gereja tradisional yang tidak cocok, ataupun sakit hari dengan “orang gereja”.  Kata kunci “marketplace” menjadi kata sakti untuk menggantikan “maaf saya tidak bisa ke gereja”.  Apakah sesederhana itu?

Russell, M dalam bukunya The Missional Entrepreneur: Principles and Practices for Business as Mission cukup detil membagi model pelayanan di dunia usaha menjadi 4 kategori (sumber):

  1. Bisnis Sebagai Pusat Dana (Business for Mission)
  2. Penginjilan Dalam Bisnis (Mission in Business)
  3. Bisnis Sebagai Platform Misi (Business as Platform for Mission)
  4. Bisnis Yang Dalam Misi (Business in Mission)

Peter Wagner melihat bisnis di dunia usaha sebagai “gereja di dunia usaha”. Baik secara pribadi maupun institusi. Lebih jauh Wagner melihat bahwa gereja lokal yang ada sekarang berfungsi sebagai “keluarga inti” atau nuclear family, sedangkan komunitas bisnis sebagai extended family atau keluarga jauh. (sumber).

Pemikiran Peter Wagner ini selaras dengan pemikiran Russel terutama di kategori 4 yang mengatakan bisnis yang sedang dalam misi. Arti yang paling sederhana, bisnis tidak bisa dianggap hanya sebagai sapi perah (pusat dana). Itu hanyalah satu dimensi dari bisnis kerajaan.

Yang menjadi paling ideal adalah ketika bisnis (baca : perusahaan) itu sendiri menjadi Ekklesia (Kumpulan duta-duta kerajaan) yang hidup dari nilai-nilai kerajaan, berjalan dalan kuasa kerajaan, dan berendam dalam atmosfir kerajaan.

***

Implikasi dari model “business as church” ini sangat luas.  Minimal bagi pemilik, manajemen, atau profesional, dan karyawan berdampak berbeda.  Membutuhkan perubahan pemikiran yang cukup radikal bagi semua stakeholder ketika model bisnis sebagai gereja diterapkan.

Dari Mat 16:18-19 kita mendapatkan dua prinsip utama Ekklesia (gereja, jemaat, kumpulan orang percaya). Yang pertama adalah Yesus yang mendirikan ekklesia. Artinya, tidak ada bisnis kerajaan yang didasarkan “karena untung” tapi harus karena “disuruh Tuhan”.  Kalau Yesus tidak menjadi Tuhan atas bisnis kita maka mendirikan bisnis maka sia-sialah semuanya (Maz 17-1).

Yang kedua, dikatakan gereja diberikan KUNCI KERAJAAN.  Artinya, bisnis yang berfungsi sebagai ekklesia akan mampu membuka daerah, pulau,kota, bangsa, bahkan dunia.  Suatu janji profetik yang luar biasa yang iblis tidak inginkan orang percaya untuk tahu.  Karena mengerti kunci ini akan membuka pintu surga sehingga pasukan kerajaan surga dapat leluasa menyerang bumi dan merubah semua tatanan kekuasaan kerajaan gelap.

Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”  (Mat 16:18-19)

Penulis    : Hanny Setiawan
Sumber   : LightHouse Marketplace Ministry

 

Comments

http://i0.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2016/08/keykingdom.jpg?fit=561%2C332http://i0.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2016/08/keykingdom.jpg?resize=561%2C332Hanny SetiawanBisnisMandat Budayabisnis kerajaan,dunia usaha,Marketplace MinsitryBeritaMujizat.com - Mandat Budaya -  'Marketplace' menjadi buzzword dalam gereja-gereja modern. Terutama gereja-gereja yang diperkotaan dengan jemaat para pebisnis ataupun profesional dan kelas menengah yang signifikan.  Para pebisnis tersebut disinyalir merasa dijadikan 'sapi perahan' oleh gereja sehingga menjadi gerah dan mulai mencari penyaluran melalui yayasan ataupun pelayanan-pelayanan pribadi. Diluar masalah being...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan