S2IYYf_rixh20poor

Sumber Gambar 

Beritamujizat.com-MandatBudaya-Poleksosbud Kesenjangan sosial ekonomi yang terjadi masyarakat merupakan PR besar bangsa ini. Perjuangan mengatasi kesenjangan semakin diperberat karena oknum-oknum tertentu yang sengaja menebar kebencian untuk tujuan politis.

Melalui pilkada DKI kemarin, tren penggunaan isu kesenjangan sebagai senjata politik akan terus meningkat hingga pilpres 2019. Isu kesenjangan dinilai sangat efektif untuk meraup dukungan dari masyarakat.

Kesenjangan merupakan realitas yang terjadi ditengah masyarakat, manifestsinya bahkan dapat dilihat oleh kasat mata. Akan tetapi pemerintah maupun swasta sesungguhnya tidak tinggal diam melihat kenyataan ini.

Ada banyak saluran yang telah dibangun guna menjawab permasalahan ini baik dari tingkat pusat maupun pelosok desa. Ada banyak sekali program yang telah dicanangkan baik program singkat maupun jangka panjang.

Akan tetapi mengatasi masalah kesenjangan tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Ada banyak sekali tantangan yang harus dihadapi ketika menjawab persoalan ini. Budaya, karakter, cara pandang, dan kebiasaan adalah hal sangat sulit diubah dari seseorang, apalagi suatu kelompok dengan keunikan tertentu.

Karena begitu sulitnya, banyak orang yang berusaha menjawab pertanyaan ini berhenti pada program atau bahkan sekedar empati. Bahkan yang yang lebih parah, banyak orang sudah mulai skeptis dengan upaya ini.

Dalam situasi seperti ini seharusnya Gereja Tuhan harus menjadi jawaban. Kalo kita merenungkan kembali alkitab, banyak dari tokoh alkitab sebelumnya adalah orang biasa, bahkan orang-orang berdosa.

Akan tetapi mereka mampu berubah dan membuat suatu perubahan yang besar yang mempengaruhi peradaban manusia. Akan tetapi saat ini, Gereja seakan diam dan acuh dengan menghadapi isu kesenjangan ini.

Hal ini disebabkan Gereja seringkali dimaknai sebagai lembaga sosial, yang digunakan untuk sekedar menyalurkan sumbangan atau bantuan terhadap orang-orang yang membutuhkan. Gereja Tuhan seharunya menjadi “kawah candradimuka” yang mampu mendidik seseorang hingga sungguh-sungguh terjadi perubahan.

Hanya fokus terhadap program kerja tentu bukan jawaban untuk mengatasi permasalahan ini. Belajar membuka hati dan meningkatkan kapasitas rohani adalah hal yang harus dilakukan.

YANG KUAT MENANGGUNG YANG LEMAH

Hal tersebut adalah prinsip yang harus kita mulai hidupi sebagai orang Kristen. Belajar mencintai semua orang lebih dari diri sendiri harus kita ajarkan sejak dini.

Kesenjangan akan teratasi apabila kita mampu mengalahkan diri sendiri. Kebencian dan ancaman yang coba dihadirkan guna menggambarkan suatu penjajahan suatu etnis terhadap etnis yang lain adalah konspirasi yang akan selalu dimunculkan.

Dalam hal ini Gereja Tuhan justru memegang peranan penting guna menangkal virus kebencian antar etnis, yang coba dimunculkan melalui isu kesenjagan. Mendidik kelompok yang kuat agar mau menanggung kelompok yang lemah harus mulai diajarkan dalam setiap kegiatan peribadatan.

 

Penulis : Gilrandi ADP (Institut Karismatik Refermasi Indonesia)

 

Comments

http://i2.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2017/05/S2IYYf_rixh20poor-e1495010748452.jpg?fit=850%2C568http://i2.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2017/05/S2IYYf_rixh20poor-e1495010748452.jpg?resize=850%2C568Gilrandi ADPMandat BudayaPoleksosbudGereja bukan lembaga sosial,Kesenjangan,mendidik,Yang kuat menanggung yang lemahSumber Gambar  Beritamujizat.com-MandatBudaya-Poleksosbud Kesenjangan sosial ekonomi yang terjadi masyarakat merupakan PR besar bangsa ini. Perjuangan mengatasi kesenjangan semakin diperberat karena oknum-oknum tertentu yang sengaja menebar kebencian untuk tujuan politis. Melalui pilkada DKI kemarin, tren penggunaan isu kesenjangan sebagai senjata politik akan terus meningkat hingga pilpres 2019. Isu kesenjangan dinilai sangat efektif untuk...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan