Kesenjangan Sosial

Sumber gambar (…)

Beritamujizat.com-Mandat Budaya Gemeruh pilkada DKI yang menjadi primadona di dunia maya telah membukan suatu peta sosial, ekonomi, dan politik bangsa Indonesia. Setidaknya ada dua masalah utama yang selalu dimunculkan yaitu radikalisme dan kesenjangan ekonomi.

Namun yang menjadi akar dari semua bukanlah masalah tersebut, melainkan bagaimana cara melihat dan bersikap atas kedua masalah tersebut.

Dari kedua masalah ini tantangan yang terbesar yang harus dihadapi adalah “spirit kamuflase” yang bertujuan membuat kita sulit mengerti mana yang benar mana yang salah. Semua kelihatan abu-abu dan tidak jelas.

Tujuan utamanya sangat jelas, menyebar kebencian, meruntuhkan persatuan, dan menggagalkan terwujudnya keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

Hal tersebut tentu adalah agenda utama menghalangi terwujudnya Indonesia Baru. Indonesia Baru yang luhur karena mengutamakan Tuhan (Ketuhanan), yang bersatu meskipun dari bermacam perbedaan (Persatuan), dan terwujudnya keadilan dalam segala bidang (Keadilan).

Lalu bagaimana sikap kita sebagai orang percaya dalam menghadapi tantangan nyata yang sudah ada di depan mata kita?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut kita harus percaya, Tuhan tidak tinggal diam dengan realita yang terjadi. Tuhan sudah bekerja! ya Dia sudah bekerja!. Melampaui segala akal, masa, dan kekuatan manusia Tuhan telah bekerja baik melalui pribadi, keluarga, gereja, atau komunitas-komunitas yang lainnya.

Inilah pentinya memahami hal-hal yang bersifat Profetik. Kembali menyeleraskan diri ke dalam rencana agung Tuhan yang dapat digali melaui Firman dan Doa, sebelum menilai, atau memutuskan tindakan apapun.

Memang belum semua orang percaya nyaman dengan hal-hal yang bersifat Profetik, karena terkadang banyak mengkaitkannya dengan hal-hal Klenik atau Mistis. Yang terpenting adalah mengerti esensi bahwa semua yang terjadi di alam raya ini tidak lepas dari campur tangan Tuhan yang maha kuasa.

Kalo kita sebagai orang percaya tidak kembali pada dasar yang benar, maka kita akan sering terjebak dalam melihat dan menilai fenomena yang ada. Ketepatan Ilahi harus mulai diajarkan dalam gereja, keluarga, komunitas, sekolah, atau dimanapun.

Dari Profetik hingga Kebijakan Publik harus terus diajarkan dan dihidupi oleh orang percaya. Pengetahuan kita harus selalu diselarakan dengan pewahyuan yang kita dapat dari Firman dan Doa.

TAKUT AKAN TUHAN ADALAH AWAL DARI PENGETAHUAN (AMSAL 1:7)

Rencana Tuhan adalah rencana yang kekal. Manusia datang dan pergi karena waktu manusia terbatas. Sedangkan waktu Tuhan terus berlanjut. Apa yang kita tuai hari ini adalah hasil dari apa yang telah dituai orang-orang terdahulu. Apa yang orang lain nanti tuai mungkin hasil dari apa yang kita tanam hari ini.

Indonesia Baru bisa terwujud besok, bulan depan, tahun depan, atau ratusan tahun kemudian. Akan tetapi di setiap musim dan waktu kita harus menyelaraskan hidup kita dengan agenda kekal Tuhan yang telah. Penyelerasan diri dengan Tuhan dapat kita lakukan adalah mencari pribadiNYA melalui DOA dan merenungkan janji dan FirmanNYA.

Selamat mengerjakan Indonesia Baru..

Salam…

 

Penulis : Gilrandi ADP (Institut Karismatik Reformasi Indonesia)

 

 

 

 

 

 

Comments

http://i2.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2017/04/Kesenjangan-Sosial.jpg?fit=620%2C372http://i2.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2017/04/Kesenjangan-Sosial.jpg?resize=620%2C372Gilrandi ADPMandat Budayaindonesia baru,politik,Profethik,Profetik,Spirit kamuflaseSumber gambar (...) Beritamujizat.com-Mandat Budaya Gemeruh pilkada DKI yang menjadi primadona di dunia maya telah membukan suatu peta sosial, ekonomi, dan politik bangsa Indonesia. Setidaknya ada dua masalah utama yang selalu dimunculkan yaitu radikalisme dan kesenjangan ekonomi. Namun yang menjadi akar dari semua bukanlah masalah tersebut, melainkan bagaimana cara melihat dan bersikap...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan