Screen Shot 2017-04-01 at 11.26.51 PM

BeritaMujizat.com – Editorial – Pilkada DKI 2017 semakin panas atau tepatnya dipanas-panasi oleh pihak-pihak tertentu. Demo 313 yang mengusung tema yang sama dengan Demo 411, dan 212 berakhir dengan tragis karena pentolan-pentolannya ditangkap dengan tuduhan makar oleh pihak kepolisian.

Ditengah maraknya isu SARA, terasa sekali “pihak gereja” secara institusi seakan-akan tidak ada suaranya. Lebih tepatnya dikatakan bahwa Gereja terasa bisu, kelu, dan berdiam. Entah itu karena teologi “jangan ikut-ikut politik” atau karena memang takut.  Spirit of Fear atau roh ketakutan memang terasa sekali mencengkeram ibukota dalam beberapa bulan terakhir.

Apakah memang sudah sebaiknya Gereja berdiam diri saja? Secara fakta, diakhir rumput melalui medsos Gereja secara organisme (yaitu orang-orangnya) meskipun sporadik terasa sekali menyuarakan suara profetis yang cukup vokal.

Mengharamkan Gereja di Indonesia ikut berpolitik praktis jelas bukan hal yang benar, tapi melihat ketidakadilan sedang terjadi apakah Gereja harus terus berdiam?

Posisi Ahok sebagai minoritas ganda adalah sasaran tembak empuk dalam politik. Situasi ini sebenarnya adalah waktu yang tepat untuk memperlihatkan betapa hebatnya Indonesia dengan Bhinneka Tunggal Ika-nya. Istilah mayoritas dan minoritas tidak seharusnya ada dalam demokrasi Pancasila.  Inilah  yang harus diperjuangkan Gereja supaya generasi baru Indonesia akan menikmasi kebebasan berpolitik lebih luas lagi.

Jadi bukan sekedar membela Ahok, tapi membela nilai-nilai demokrasi Pancasila yang sedang di langgar di Pilkada DKI 2017.  Gereja tidak sepantasnya berdiam diri, Gereja seharusnya bersuara menyatakan kebenaran dalam kasih.

Ketika kutukan-kutukan sedang diujarkan dengan begitu bebasnya ke bangsa ini, maka Gereja harus “membalas” dengan suara Kasih Karunia untuk memberkati bangsa ini. Nabi Yesaya menyatakan kata-kata profetis yang layak menjadi perhatian kita bersama di musim ini:

Sebab pengawal-pengawal  umat-Ku adalah orang-orang buta, mereka semua tidak tahu apa-apa; mereka semua adalah anjing-anjing bisu, tidak tahu menyalak; mereka berbaring melamun dan suka tidur saja; (Yes 56:10)

Jabatan sebagai pemimpin Gereja adalah sebuah tanggung jawab besar, bahkan lebih besar dari jabatan politik manapun. Tuhan sendiri yang menempatkan orang-orangNya ditempat-tempat yang tepat.  Apabila para pemimpin Gereja menjadi buta, bisu, bahkan tidur saja maka siapa yang akan mengawal umatNya?

Suatu tamparan profetis kepada kita semua sebagai GerejaNya di Indonesia.  Gereja harus mulai siuman dari ibadah, dan kelas-kelas seminari dan mulai bersuara di ruang publik untuk menyatakan kebenaran (truth), mengerjaan keadilan (justice), dan memperlihatkan keindahanNya (beauty).

 

Penulis : Hanny Setiawan

Comments

http://i2.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2017/04/Screen-Shot-2017-04-01-at-11.26.51-PM.png?fit=729%2C476http://i2.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2017/04/Screen-Shot-2017-04-01-at-11.26.51-PM.png?resize=729%2C476Hanny SetiawanEditorialahok,Pilkada DKI 2017BeritaMujizat.com - Editorial - Pilkada DKI 2017 semakin panas atau tepatnya dipanas-panasi oleh pihak-pihak tertentu. Demo 313 yang mengusung tema yang sama dengan Demo 411, dan 212 berakhir dengan tragis karena pentolan-pentolannya ditangkap dengan tuduhan makar oleh pihak kepolisian. Ditengah maraknya isu SARA, terasa sekali 'pihak gereja' secara institusi seakan-akan tidak...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan