santa

BeritaMujizat.com – Editorial – Tensi tinggi politik SARA yang demikian tinggi di Indonesia memperlihatkan betapa peran Gereja di politik moral maupun praktis harus terus dikaji. Khususnya peran rohaniwan Kristen, atau biasa disebut pendeta.

Kuatnya doktrin pemisahan Gereja dan negara dalam mainstream teologi kristen di satu sisi justru telah membungkam suara-suara kenabian dari Gereja. Di sisi lain, ketika rohaniwan Kristen mulai terjun di politik praktis, maka mimbar pun menjadi ajak kampanye, dan orasi politik.

Tarik menarik antara sekuler-rohani ini tidak bisa dianggap angin lalu, ataupun hal sepele. Para teolog, pemikir Kristen, sampai kepada praktisi-praktisi awam harus mulai menemukan pola Ilahi yang tepat (baca : model pelayanan) untuk pelayanan di bidang politik dan pemerintahan.

Apabila konsep Gereja Dunia Usaha (Marketplace Church) sudah mulai diterapkan secara sporadik, tidak adakah “Gereja Dunia Politik” yang bisa menjadi turunan pemikiran dari Marketplace Church?

TERKAIT : Marketplace Church: Bergereja atau Menjadi Gereja?

TERKAIT : Pelayanan di Dunia Usaha, Apakah Sesederhana Menghasilkan Uang Untuk Gereja?

Sebagai contoh kasus nyata, dalam kasus Ahok yang sarat dengan urusan berbau agama, mengapa tidak ada rohaniwan Kristen yang mendampingi Ahok untuk berdialog dengan para Ulama?

MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang menjadi salah satu titik polemik Ahok melalui fatwanya apakah tidak bisa berdialog dahulu dengan para “ulama Kristen” yang mungkin mengerti kebatinan umat Kristen yang secara simbolik diwakili Ahok?

Sangat bisa dimengerti apabila ada umat Islam yang tulus yang sakit hati karena merasa sudah terjadi penistaan agama karena narasi politik yang beredar.  Siapa tidak? Semua umat beragama pasti tidak nyaman apabila agamanya di hina.

Tapi apabila meja dibalik, dan kita mencoba mengerti perasaan WNI Kristen yang secara tulus hendak ikut membangun Indonesia, tapi menjadi semakin takut dan paranoid karena melihat politisasi dan kriminalisasi yang terjadi pada Ahok di Jakarta.

TERKAIT : Pandangan Politik Kerajaan Tidak Didasarkan Analisis Politik Biasa

Disinilah peran strategis rohaniwan Kristen seharusnya tidak dihilangkan. Rohaniwan-rohaniwan Katholik terlihat lebih menonjol memainkan kartunya dibidang ini. Apakah ini semua karena kesalahan, atau kekuranglengkapan teologi Kristen?

Begitu takutnya dengan cap “pendeta koq berpolitik” membuat akhirnya rohaniwan Kristen menjadi mandul dan tidak berperan di ruang publik. Padahal sebagai pemimpin pasti diikuti domba-domba yang dilayani.

Yang menarik diamati, kebuntuan peran rohaniwan Kristen dibidang politik ini terasa mendapat “solusi” dengan lahirnya sosial media.  Terlihat, orang-orang awam justru dengan giat ikut berpartisipasi di politk dengan menjadi relawan-relawan digital.

Melihat realitas ini, seharusnya para rohaniwan Kristen harus mulai menyadari dan berbenah diri.  Tidak bersembunyi di mimbar-mimbar gereja, tapi juga tidak mengotori mimbar dengan kepentingan politik. Dunia politik bukan untuk dihindari, tapi dihadapi. Ini waktunya para nasionalis Kristen untuk lebih aktif “memandu bangsa”, menjadi garam dan terang bagi Indonesia.

 

Penulis : Hanny Setiawan

 

 

Comments

http://i1.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2017/03/santa.jpg?fit=400%2C280http://i1.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2017/03/santa.jpg?resize=400%2C280Hanny SetiawanEditorialpolitik,rohaniwan kristen,ulamaBeritaMujizat.com - Editorial - Tensi tinggi politik SARA yang demikian tinggi di Indonesia memperlihatkan betapa peran Gereja di politik moral maupun praktis harus terus dikaji. Khususnya peran rohaniwan Kristen, atau biasa disebut pendeta. Kuatnya doktrin pemisahan Gereja dan negara dalam mainstream teologi kristen di satu sisi justru telah membungkam suara-suara kenabian dari Gereja....Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan