dialog-agama

BeritaMujizat.com – Editorial –  Tulisan di catatan Facebook “Tuhan Kok Beranak” yang telah menjadi viral di media sosial adalah sebuah tulisan berharga yang perlu ditindaklanjuti oleh semua pihak baik pemerintah maupun lembaga-lembaga Agama.

Tulisan Aisha Nurramdhani yang mengupas tentang isu penting dalam agama Samawi yaitu antara sesuatu yang bersifat ilahi (divine) dan insani (human).  Isu yang mengupas sifat paradoksial dalam agama-agama wahyu ini adalah titik temu dari “iman bersama” atau common faith.

Titik temu penting inilah yang diangkat oleh Aisha dalam tulisannya, mengajak bangsa ini untuk lebih melihat dari sudut pandang iman orang lain tanpa kehilangan iman pribadinya. Dengan demikian, rasa toleransi itu akan lebih mudah dipupuk.

Berikut adalah nukilan pemikiran Aisha yang secara tepat menggambarkan iman Kristen, sekaligus melukiskan iman Islam dalam satu keharmonisan kebangsaan.

Salah satu hal yang sering menjadi olok-olok kepada kaum Nasrani adalah ketika orang awam membenturkan sifat keTuhanan Yesus dengan kodratnya sebagai manusia. Rata-rata karena mereka tidak paham sifat “sepenuhnya insani” (kamil bi al-nasut) dan “sepenuhnya ilahi” (kamil bi al-lahut) yang dimiliki Yesus diatas.

Yesus adalah 100% Allah (dlm kapasitasnya sbg Firman Tuhan) namun juga 100% manusia (dlm fisik insaninya). Sama persis dengan Al Quran yang 100% Kalimatullah dan 100% buku.

Secara fisik mungkin buku tersebut dapat rusak, robek, atau bahkan terbakar sampai habis, bukan? Namun ketika Al Quran rusak secara fisik, apakah artinya Firman Allah juga telah rusak? Tentu tidak.

Yesus pun dalam rupanya sebagai manusia tentu dapat mengalami kerusakan secara fisik – merasakan rasa sakit, lapar, mati (namun bangkit lagi). Tapi kerusakan secara fisik tentu tidak berpengaruh apa-apa terhadap statusnya sebagai Firman Allah. Apalagi sampai hal-hal fisik ini dipandang sebagai bukti bahwa Yesus bukan Firman Allah.

Sumber : Tulisan Aisha Nurramdhani – “Tuhan Kok Beranak?”

Menambah apa yang Aisha tuliskan, sifat ganda ilahi-insani dalam kekristenan tidak cuma dalam pribadi Yesus, tapi sifat itu juga berlaku terhadap Alkitab (kitab suci orang Kristen) yang dipercaya adalah tulisan profetis yang diilhamkan Roh Kudus dan bersifat kekal dan innerancy (tidak ada salah).

Lebih jauh lagi, dalam iman Kristen yang menganut kepercayaan dosa warisan, yaitu bahwa semua orang sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Tuhan di taman Firdaus, hanya bisa dikembalikan melalui kasih karunia (rahmat Ilahi) dengan di ciptakan baru.

Ciptaan baru (II Kor 5:17) ini pun bersifat ilahi-insani, sehingga bersifat trandsenden sekaligus imanen, supernatural sekaligus natural.

Bahasa universal dari pemikiran ilahi-insani dalam kebangsaan adalah orang Kristen percaya bahwa kita adalah WNS (Warga Negara Surga) sekaligus WNI (Warga Negara Indonesia). Sebab itu, orang-orang Kristen sudah sepatutnya menjadi WNI-WNI yang taat dengan cara menjadi warga kerajaan yang mengerti tugas dan panggilannya.

Yesus sendiri memberikan pemahaman warga negara ganda ini di Injil

Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:21)

***

Agama-agama samawi (Yahudi, Kristen, dan Islam) adalah agama-agama yang percaya kepada wahyu Ilahi. Persamaan-persamaan ketiga agama besar ini mungkin lebih banyak daripada perbedaannya. Kepercayaan kepada Adam dan Abraham atau Ibrahamin adalah titik-titik temu yang lain.

Kalau kita semua percaya kita adalah keturunan Adam, mengapa harus saling mencaci, menyakiti, bahkan membunuh? Lebih dekat lagi, Kristen dan Islam sama-sama percaya keturunan Ibrahim. Yang satu bin Ishak, yang lain bin Ismael.  Kalau “bapaknya sama” kemungkinan besar Ishak dan Ismael juga memiliki banyak nilai-nilai yang sama bukan?

Daftar titik temu ini patut ditelusuri dan dijadikan dialog-dialog antar umat untuk mengembangkan toleransi. Sebab itu, pernyataan dan ajakan ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) Din Syamsudin untuk mengintensifkan dialog agama patut direspon pihak Kristen dengan tangan terbuka.

“Kita berkeyakinan dengan ketulusan berdialog untuk adanya jalan keluar kita akan bisa mencari solusi yang terbaik bagi bangsa ini. Karena kita sudah punya nilai dasar yang kita sepakati bersama. Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, UUD 1945, dan NKRI,” (sumber)

Tulisan Aisha, dan ajakan Din adalah dua momentum yang tepat untuk memulai apa yang disebut rekonsiliasi bangsa.  Patut diingat, Soekarno, sanga bapak bangsa, kerap mengatakan “Rekonsiliasi Tidak Bisa Ditawar”.  Biarlah ini menjadi suatu tantangan, ajakan, dan sekaligus “altar call” bagi GerejaNya di Indonesia.

Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.
(II Kor 5:18)

Penulis   : Hanny Setiawan
Sumber  :  IKRI (Institut Karismatik Reformasi Indonesia)

Comments

http://i0.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2016/12/dialog-agama-1.jpg?fit=810%2C404http://i0.wp.com/beritamujizat.com/wp-content/uploads/2016/12/dialog-agama-1.jpg?resize=810%2C404Hanny SetiawanEditorialAisha Nurramdhani,dialog agama,Rekonsiliasi Bangsa,ToleransiBeritaMujizat.com - Editorial -  Tulisan di catatan Facebook 'Tuhan Kok Beranak' yang telah menjadi viral di media sosial adalah sebuah tulisan berharga yang perlu ditindaklanjuti oleh semua pihak baik pemerintah maupun lembaga-lembaga Agama. Tulisan Aisha Nurramdhani yang mengupas tentang isu penting dalam agama Samawi yaitu antara sesuatu yang bersifat ilahi...Tuliskan Kebenaran, Hasilkan Perubahan